Ketika
Raja Mandaraga wafat, jenazahnya dimakamkan di tempat itu juga (sekarang
Mandaraga menjadi sebuah kampung di Desa Keles Kecamatan Ambunten Kabupaten
Sumenep). Di sebelah timur laut sumber Mandaraga adalah makam Pangeran
Mandaraga, yang oleh orang-orang desa itu disebut "Asta Patapan",
(makam pertapaan), karena pada zaman dahulu banyak orang yang datang bertapa di
tempat yang dikeramatkan itu.
Tak
banyak diceritakan mengenai kehidupan Raja Mandaraga termasuk kedua puteranya,
yaitu Pangeran Bukabu dan Pangeran Baragung. Yang diceritakan hanya Pangeran
Bukabu dan Pangeran Baragung meninggal dunia. Jenazah Pangeran Bukabu
dimakamkan di Bukabu (sekarang Bukabu menjadi sebuah desa di Kecamatan Ambunten
Kabupaten Sumenep). Sedangkan Pangeran Baragung dimakamkan di Baragung
(sekarang Baragung menjadi sebuah desa di Kecamatan Guluk-Guluk Kabupaten
Sumenep). Pangeran Bukabu banyak menurunkan Para Kyai dan alim ulama di Madura
umumnya dan di Sumenep pada khususnya.
Pangeran
Baragung meningggalkan seorang puteri yang bernama Endhang Kilengan. Ia
bersuamikan Bramakanda. Dan, dalam perkawinannya itu, mereka dikarunia seorang
putera yang bernama Wagungrukyat. Setelah Wagungrukyat menginjak dewasa, ia
menjadi raja di Sumenep, dengan julukan Pangeran Saccadiningrat. Keratonnya
terletak di Desa Banasare (sekarang Banasare termasuk Kecamatan Rubaru).
Pangeran
Saccadiningrat kawin dengan saudara sepupu ibunya, yaitu Dewi Sarini. Tidak
lama mereka dikaruniai seorang puteri bernama Saini, dengan julukan Raden Ayu
Potre Koneng. Kulitnya mengkilat serta memiliki wajah yang sangat cantik.
Setelah
Raden Ayu Potre Koneng menginjak remaja, bapak ibunya menghimbau agar ia kawin.
Namun, ia menolak karena tidak mengetahui sama sekali tentang masalah
perkawinan. la lebih senang berbakti kepada Allah daripada kawin. Karma itu
pada suatu hari, ia berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi ke goa
Payudan. Ia akan bertapa di tempat tersebut. Setelah direstui oleh ibu
bapaknya, lalu ia berangkat bersama tiga orang pengiringnya.
Dalam
menjalani masa pertapaannya itu, Raden Ayu Potre Koneng tidak makan, tidak
minum, dan tidak Pula tidur. Setelah sampai tujuh malam, ketika itu malam
tanggal empat belas, ia tertidur. Dalam tidurnya itu, ia bermimpi didatangi
seorang laki-laki yang roman mukanya sangat tampan. Laki-laki tersebut mengaku
bernama Adipoday. Ketika itu Raden Ayu Potre Koneng terkejut, lalu bangun,
"Oh, aku bermimpi," katanya. Setelah pagi hari ia pulang ke Sumenep.
Alkisah,
ada dua orang pertapa bersaudara. Mereka adalah putera-putera Panembahan
Balinge yang bergelar Ario Pulangjiwo. Yang seorang bernama Adipoday, dan yang
satu lagi bernama Adirasa. Adipoday bertapa di gunung Gegger, dan Adirasa di
ujung gelagah.
Dari
hari ke hari, bulan berganti bulan, kini perut Raden Ayu Potre Koneng semakin
besar. Ia hamil. Dan kehamilannya itu, membuat bapak ibunya marah, hingga pada
suatu hari ia akan dihukum mati. Bapak ibunya tidak kuat menahan rasa malu
karma puteri satu-satunya hamil diluar nikah. Bapak ibunya akan merasa malu
andaikata peristiwa ini didengar oleh raja-raja yang lain. Di samping itu, akan
mencemarkan nama baik kerajaan clan keluarga besar keraton. Itulah pandangan
kedua orang tua Raden Ayu Potre Koneng mengenai kehamilan puterinya.
Apa
yang terjadi setelah Pangeran Saccadiningrat memberi putusan hukuman mati
terhadap puterinya? Berbagai upaya dilakukan oleh permaisuri, para menteri dan
Patih yang menaruh belas kasihan kepada Raden Ayu Potre Koneng. Mereka
mengadakan perundingan, mencarikan jalan untuk memperoleh keringanan cara untuk
melunakkan hati baginda raja. Akhirnya, baginda raja berkenan merubah
keputusannya, dengan syarat supaya puterinya tidak sampai terlihat beliau.
Dengan
batalnya keputusan hukuman mati itu, Raden Ayu Potre Koneng disembunyikan agar
tidak terlihat baginda raja.
Begitulah,
ketika kandungannya berusia sembilan bulan, maka pada suatu malam bertepatan
dengan tanggal empat belas, Raden Ayu Potre Koneng melahirkan seorang bayi
laki-laki. Sang puteri melahirkan tanpa mengucurkan darah setetes pun, dan
tanpa mengeluarkan ari-ari pula. Sang bayi tampak elok, bersih, dan berseriseri,
mengingatkan sang puteri kepada orang yang pernah datang dalam mimpinya.
Kelahiran
bayi mungil itu membuat sang puteri me rasa takut dan malu pada bapak ibunya.
Ta takut disangka berbuat yang tidak baik. Karena itu, Raden Ayu Potre Koneng
memanggil dayangnya.
"Mbok!
Sebenarnya aku tidak tega menyingkirkan bayi ini. Tapi apes boleh buat, inilah
satu-satunya cares terbaik," kata sang puteri memelas.
"Maksud
Tuan puteri?" tanyanya agak heran.
"Bawalah
bayi ini ke tempest yang jauh," perintahnya, tapi ingest yes, Mbok,
jangan di letakkan di sarang macan. Aku khawatir dimakan."
"Segala
titah Tuan puteri akan hamba laksanakan demi keselamatan Jeng puteri,"
jawab si Mbok.
Dengan
belaian kasih sayang, dilepaslah bayi itu dari pangkuan ibundanya. Lalu,
diserahkannya kepada Si Mbok. Bayi tersebut dibawanya menuju arah selatan.
Sementara pipi sang puteri penuh dengan deraian air mates mengenang nasib
puteranya tercinta.
Menjelang
matahari terbit, Si Mbok tadi telah sampai ke alas gunung selatan. Bayi yang
masih kemerah-merahan itu diletakkan di suatu tempest yang benar-benar terjamin
keamanannya. Di bawah pohon yang rindang itulah sang bayi diletakkan, lalu
ditutup dengan dedaunan. Selesai melaksanakan tugasnya, inang pengasuhnya itu
pulang kembali ke keraton.
Beberapa
saat kemudian, inang pengasuhnya tiba di keraton. Dan, memberikan laporannya
mengenai tugas yang diberikan.
Diceritakan
bahwa di daerah lain, yaitu di Desa Pakandangan (sekarang Pakandangan termasuk
Kecamatan Bluto Kabupaten Sumenep), hiduplah seorang lakilaki bernama Empo
Kelleng. Dalam kegiatan sehariharinya, is bekerja sebagai pandai besi. Membuat
keris, pisau, dan perkakas pertanian.
Telah
sekian tahun lamanya Empo Kelleng hidup berumah tangga, is masih belum
dikarunia keturunan. Berbagai usaha yang is lakukan, tapi usahanya itu masih
belum membuahkan hasil. Sampai-sampai is pergi ke dukun, tapi tidak berhasil
juga.
Di
samping sebagai pandai besi, Empo Kelleng juga memelihara kerbau. Tiap pagi
binatang piaraannya itu diumbar ke hutan. Dan, bila senja pulang sendiri, lalu
masuk ke kandangnya. Begitulah kerbau Empo Kelleng setiap harinya.
Di
antara kerbau yang banyak tadi, ada seekor kerbau betina yang berbulu putih
mulus serta paling bagus dibandingkan yang lain. Ketika bayi tadi dibuang ke
hutan, kerbau putih itu barn selesai menyusui anaknya. Dengan kekuasaan Allah,
pada saat bayi diletakkan di hutan, secara diam-diam kerbau putih tadi berlari
ke tempat bayi itu, lalu menyusuinya. Di samping menyusui, kerbau putih itu
menjaganya agar tidak sampai dimakan binatang buas. Begitulah pekerjaan
sehari-harinya, serta setiap pulang mesti selalu teriambat.
Tingkah
laku yang aneh dari kerbau putihnya itu, membuat Empo Kelleng curiga. Karena
itu, is meneliti setiap kerbaunya pulang dari hutan setelah seharian mencari
makan di tempat tersebut. Sudah berapa hari aku teliti kerbau yang putih ini,
pasti datangnya selalu paling akhir dan perutnya kempes. Badannya semakin
kurus. barangkali kerbau yang satu ini dipekerjakan oleh orang. Besok akan
kubuntuti dari jauh agar aku tahu apa yang menjadi penyebabnya, pikir Empo
Kelleng dalam hatinya.
Keesokan
harinya ketika matahari baru terbit, kerbau-kerbau itu dikeluarkan dari
kandangnya sebagaimana hari-hari sebelumnya. Empo Kelleng melihat kerbau putih
keluar serta berjalan di barisan paling depan. Sedangkan kerbau-kerbau lainnya
ditinggalkan. Lalu Empo Kelleng membuntutinya dari jauh. Sesampainya di hutan,
kerbau putih itu terus menuju ke bawah pohon tempat bayi diasingkan.
Setelah
Empo Kelleng sampai di bawah pohon, is mendapati seorang bayi laki-laki yang
sedang disusui kerbau miliknya. Raut wajahnya sangat tampan dan berseri-seri.
Betapa gembiranya hati Empo Kelleng sebab dirinya memang sangat mendambakan
keturunan.
Demikianlah,
maka bayi tadi digendongnya dan dibawa pulang ke rumahnya. Isterinya sangat
senang, begitu suaminya menyerahkan bayi tersebut.
"Anak
siapa ini, Kak?" tanya isterinya sambil menerima bayi, lalu dipangku dan
diusap-usap dahinya.
"Bayi
ini kutemukan di hutan tempat kerbau kita mencari makan, " jawab suaminya
dengan perasaan bangga.
"Kasihan
ya, Kak. Lalu siapa yang menyusui?" tanyanya lagi.
"Ya,
kerbau yang putih itu." jawab Empo Kelleng.
Nyai
Empo yang telah lama mendambakan kehadiran seorang anak, tanpa disangka-sangka
akhirnya menggendong bayi juga. Walaupun bayi tersebut tidak dilahirkan oleh
Nyai Empo, namun sikapnya bagaikan seorang ibu yang baru melahirkan. Ia minum jamu,
susunya dibuat besar supaya keluar air susu.
Nyai
Empo ingin sekali menyusui bayinya. Namun, usahanya itu tidak berhasil. karena
itu, maka bayi tetap menyusu pada kerbau putih. Dan, memberinya nama
"Jokotole".
Sejak
Empo Kelleng mempunyai anak Jokotole, siang ma'am tamu-tamu berdatangan dengan
membawa oleh-oleh. Ada yang memberi uang untuk membelikan bajunya. Dan sejak
saat itu pula, rezeki keluarga Empo Kelleng semakin bertambah. Dari pemberian
orangorang yang berkunjung ke rumahnya menyebabkan Empo Kelleng semakin kaya.
Lain
halnya dengan Raden Ayu Koneng. Ia bermimpi lagi untuk yang kedua kalinya. Ia
didatangi orang yang pernah datang dalam mimpinya dulu sampai tidur bersama di
malam itu. Perstiwa ini terjadi di keraton Sumenep. Dan, ketika bangun, is
terkejut. Sebentar duduk, kemudian tengkurap ke bantal. Dalam hatinya sangat
gelisah karma peristiwa beberapa tahun yang silam takut terjadi lagi.
"Kalau aku hamil lagi, pasti aku akan dihukum mati oleh orang tuaku.
Mereka pasti me- nyangka bahwa aku tidak mau dinikahkan sebab mempunyai pacar
maling sakti itu," kata Raden Ayu Potre Koneng dalam hatinya.
Pada
malam itu, is menangis tersedu-sedu, meratapi nasibnya. Mendengar ada orang
menangis, lalu inang pengasuhnya bangun.
"Ada
apa Tuan Puteri malam-malam begini menangis? tanyanya terheran-heran.
"Tapi dulu-dulunya bila Tuan puteri bangun tidur, iangsung mengambil air
wuduk, terns bersembahyang dan membaca Al-Qur'an hingga matahari terbit."
"Aku
bermimpi lagi, Mbok," jawab sang puteri. "Mimpi apa Tuan
puteri?" tanyanya lagi.
"Laki-laki
yang pernah datang dalam mimpiku dulu, kini datang lagi. Ia mengaku bernama
Adipoday. Aku takut, Mbok. Yang jelas kalau ketahuan aku hamil, pasti tidak
akan mendapat ampunan dari bapakku."
"Yuan
puteri jangan khawatir. Benar macan itu galak, namun sejak zaman kuno hamba
belum pernah mendengar berita bahwa macan itu makan anaknya sendiri," ujar
Si Mbok menenangkan Raden Ayu Potre Koneng.
Sang
puteri kembali agak tenteram jiwanya, walaupun masih ada rasa gelisah dalam
perasaannya.
Hari bertambah hari, bulan berganti bulan, perut sang
puteri semakin besar. Ia hamil untuk yang kedua kalinya.
Bagaimana tanggapan bapak ibunya setelah mengetahui perut
puterinya besar?
Biarpun sang puteri berusaha agar bapak ibunya tidak tahu
bahwa dirinya hamil, akhirnya ketahuan juga. Pada suatu hari bapak ibunya tahu
bahwa perut pu- terinya besar. Namun mereka tidak menanyakan apaapa, sebab hal
itu disangka penyakitnya yang dulu kambuh lagi.
Setelah kehamilan Raden Ayu Potre Koneng genap bulannya,
pada waktu tengah malam lahirlah seorang bayi laki-laki. Rant wajahnya
tidak berbeda dengan Jokotole. Ia sangat tampan dan berseri-seri.
Demikianlah,
bayi yang baru lahir itu hendak diasingkan ke hutan juga sebagaimana kakaknya
dulu. Inang
pengasuhnya
secara diam-diam menggendong bayi ter.
sebut
menuju arah selatan. Sampai di sebuah hutan tempat kakaknya dulu diasingkan,
lalu si bayi diletakkan di bawah pohon besar yang menjadi tempat singgah dan
tidurnya burung-burung.
Di
bawah pohon itu sangat sepi, tidak ada bekas telapak kaki orang berjalan. Dan,
sebanyak burung yang berhenti, apalagi burung yang bermalam di pohon samasama
memaruhkan makanan ke mulut bayi tersebut seperti memaruhkan makanan pada
anaknya sendiri. Itulah yang menjadi makanan bayi sehari-harinya.
Alkisah
di daerah lain ada orang yang bernama Kyai Padhemmabu. Pada waktu malam hari,
is melihat cahaya kemilauan dari arah timur. Saat itu pula is mendekatinya.
Semakin didekati sinar tadi, semakin terang cahayanya. Akhirnya sirna seketika.
Kyai Padhemmabu cepat-cepat mendekati bekas sinar itu, lalu melihat seorang
bayi lakilaki, yang tadinya merupakan seberkas sinar. Diambilnya bayi tersebut
dan digendong, lalu dibawa pulang ke rumahnya.
Sesampai
di rumah bayi itu diberikan kepada anak perempuannya. Anaknya sangat senang
ketika menerimanya, karma mendapat anak tanpa hamil sendiri. Oleh karma itu,
maka kehadiran bayi tersebut dianggap seperti anaknya sendiri. Bayi itu disusui
sendiri, dan diberi nama "Agus Wedi" (Banyak Wedi).
Dalam
asuhan Kyai Padhemmabu, bayi Agus Wedi tumbuh dan berkembang menjadi besar.
Kini is telah berusia lima tahun. Dan, tiap hari tiada lain pekerjaannya
adalah ikut menggembala sapi ke tegal-tegal.
Lain
halnya dengan kakaknya, Jokotole. Ia sudah berumur lebih dari enam tahun. Bila
Empo Kelleng hendak berangkat ke tempat kerjanya, Jokotole ingin ikut, namun
tidak diijinkan karma is sangat nakal, takut terkena apinya. Jokotole memang
sangat disenangi oleh Empo Kelleng dan isterinya.
Keinginan
Jokotole untuk ikut bapaknya, akhirnya terkabul juga. Ia terpaksa ikut ke
tempat bapaknya bekerja. Ketika waktu zuhur tiba, Empo Kelleng dengan Para pekerjanya
beristirahat untuk bersembahyang. Semua perkakas besinya disimpan.
Ketika
Empo Kelleng dan Para pekerjanya bersembahyang, Jokotole lalu menyulut api.
Sambil membakar besi, dibuatlah perkakas seperti arit, beliung, linggis, dan
lain-lain. Bentuknya lebih bagus daripada buatan Empo Kelleng. Sedangkan yang
dipergunakan sebagai perkakas pembuatan adalah lututnya. Lutut dipergunakan
sebagai alas, dan tangannya sebagai palu, jari-jari sebagai jepit dan kikir.
Ada yang mengatakan bahwa cara pembuatannya hanya dipijit dengan jarijarinya.
Begitu
Empo Kelleng dan para pekerjanya selesai bersembahyang, lalu mereka melihat
banyak perkakas yang sudah selesai dibuat. Mereka merasa heran melihat perkakas
sebanyak itu. Namun tidak menyangka sama sekali bahwa hal itu hasil pekerjaan
Jokotole.
Selanjutnya
pekerjaan itu dikerjakan oleh Jokotole sampai beberapa hari, namun tak satu pun
orang yang tahu.
Dikutip dari
:Buku "Babad Sumenep" ( Karangan R.Werdisastra )
Views: 2546
Komentar (3)
Beri Komentar
Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.