Pada kira-kira bulan Agustus 1946, menjelang Maghrib, Abusiri (kini Kolonel Polisi Purnawirawan) mengantarkan teman seangkatan, M. Ng. Sulaiman, ke pelabuhan Tanglok, Sampang. Ia diutus oleh pimpinan Kepolisian Karesidenan ke Kantor Polisi Pusat di Purwokerto, oleh sebab itu ia dengan 83 penumpang lainnya naik kapal Kangean (sebesar kurang lebih kapal PJKA), menuju ke Probolinggo. Kapal ini pernah dipakai rombongan Mr. sis. Cakraningrat (Bupati Bangkalan) waktu mau memperistrikan Ratu Pembayun dari Kraton Solo.
Selanjutnya Abusiri menceritakan, bahwa sekitar pukul empat esok harinya, ia menerima telepon dari Pos polisi Madegan/Tamansare, bahwa sebuah perahu penangkap ikan telah menolong dua orang korban kapal Kangean yang tenggelam. Mereka masih hidup dan berada ditempat nelayan tersebut. Setelah menerima laporan itu, Abusiri menuju tempat nelayan itu didesa Madegan, dan terdapat dua sosok tubuh manusia dalam keadaan berpakaian minim, setengah sadar dan tidak dapat melihat.
Atas pertanyaan Abusiri, mereka masih dapat menjawab bernama Abdur Razak dan Slamet dari Field Preparation (Staf Resimen) dan mereka kemari ikut kapal Kangean, tetapi dimuka pelabuhan Probolinggo telah di bom pleh pesawat terbang Belanda dan tenggelam. Setelah mendapat keterangan singkat itu, mereka diangkut dengan kendaraan Polisi ke rumah sakit Sampang dan mendapat pertolongan sebagaimana mestinya.
Menurut nelayan yang menolong itu, ia tidak tahu peristiwa pemboman itu, tetapi pada hari itu ia sedang menangkap ikan (mincing) dilautan bebas, setelah melihat kedua korban dan kemudian menolongnya. Keesokan harinya korban tersebut sudah dapat mrlihat dan sadar kembali, maka mereka dapat memberi keterangan yang jauh lebih jelas. Mereka berdua menumpang kapal Kangean dalam rangka bertugas ke Yogyakarta, dan diantara penumpang (waktu itu ia dapat menyebutkan nama-nama penumpang) adalah dokter hewan Amirin beserta keluarganya yang dalam rangka boyongan pindah kr Jawa setelah bertugas di Madura sejak jaman Belanda sebagai Kepala Dinas Kehewanan Karesidenan Madura.
Perlu disebut pula penumpang-penumpang lainnya, seperti utusan resimen untuk mengambil perbekalan kesehatan ke Jawa. Setelah semalam suntuk kapal berlayar, keesokan harinya sekitar pukul 09:00-10:00, kira-kira diseberang pelabuhan Probolinggo, setelah bertemu dengan kapal Makasar/Bugis yang menuju ke Surabaya, datanglah dari arah Barat (Surabaya) dua buah kapal terbang Belanda (semacam bomber kecil) dan terus berputar-putar diatas Kangean seolah-olah meninjau penumpang kapal yang pada umumnya berada diatas dek kapal.
Pada waktu berputar-putar kedua kalinya dengan menukik menuju kapal terus melepaskan tembakan dengan senapan yang berada dipesawat itu. Akibat dari tembakan tersebut banyak yang jatuh korban, maka untuk menunjukkan bahwa kapal itu kapal penumpang, para wanita yang selamat terus melepaskan gelung rambutnya (Madura : Ebabbar), diperlihatkan ke udara.
Untuk ketiga kalinya pesawat terbang itu kembali dan menukik menuju kpal Kangean lagi. Pada saat itulah Abdur Razak dan Slamet melompat ke laut. Menurut penglihatan mereka, kali ini pesawat tersebut melepaskan bom dan tepat kena kapal Kangean (voltreffer) dan setelah bom meledak, seluruh dek kapal beserta penumpangnya terlempar ke laut, Abdur Razak dan Slamet tidak mengetahuinya, karena sibuk menyelamatkan diri berenang menjahui kapal. Sisa kapal dibom untuk kedua kalinya, terus hancur dan tenggelam ke laut.
Abdur Razak dan Slamet berusaha terus mengapung dan berusaha berenang dengan tidak menyadari mana yang dituju, dan setelah beberapa lama terapung-apung di lautan, mereka ditolong perahu nelayan. Mereka dalam keadaan setengah sadar, sedang mata mereka tidak dapat melihat, mungkin akibat terlalu lama kena air.
Keterangan lebih lanjut tentang korban-korban lainnya hingga kini belum ada, termasuk M. Ng. Sulaiman, yang menurut tetangga dekatnya sudah mempunyai firasat karena waktu itu pamit kepada Dr. Sofia Yasin ‘Tolong kalau saya tidak kembali lagi, agar jenasah saya disembayangkan".
Dikutip dari :
Buku Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia di Madura
Views: 2316
Komentar (1)
Beri Komentar
Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.