Tompang
Tresna merupakan tradisi yang unik di Wilayah Bangkalan, yakni upacara untuk
mengukur kesucian penganten wanita pada malam pertama. Upacara ini secara
khusus terkait pada pasangan penganten baru yang masih perjaka dan perawan. Penganten
baru yang duduk di pelaminan, pada malam harinya (setelah para undangan
meninggalkan upacara pesta) pasangan penganten menikmati malam pertama. Upacara
dilaksanakan di rumah penganten putri. Sewaktu pasangan penganten memasuki
kamar penganten, diruang tamu dibacakan tembang macapat, disebut "Mamaca" atau
"Macapatan".
Konon
pada abad ke-18 di Madura Marat tepatnya di Kecamatan Socah saat kemanten pria
akan masuk demarkasi kemanten wanita. Biasanya dialog itu dibawakan oleh
beberapa orang tua-tua yang didampingi oleh seorang pendekar. Dipihak kemanten
wanita telah tersedia beberapa orang tua-tua pula yang didampingi oleh seorang
pendekar. Awalnya dialog dibawakan oleh para orang tua dari pihak temanten
pria, biasanya dengan cara berpantun. Kemudian ada jawaban dari para orang tua
pihak temanten wanita. Apabila dialog tersebut ada ketidakcocokan, biasanya
terjadi perkelahian hebat. Sebaliknya apabila dialig itu bisa cocok, maka
temanten pria bisa masuk ke keluarga temanten wanita.
Seni
Tari tradisi Bahhong ini berasal dari sebuah Desa Katol Barat yang terbilang
gersang dan tandus di daerah Kecamatan Geger, Kabupaten Bangkalan. Walaupun
desa ini gersang dan tandus tetapi di desa ini kaya akan budaya yang perlu
dikembangkan, salah satunya adalah kesenian Bahhong.
Upacara
"Temu Pengantin" yang berasal dari daerah pesisir tepatnya Banyusangka
Kecamatan Tanjung Bumi, telah ada sejak puluhan tahun lalu dan tetap
dilestarikan oleh warga setempat sebagai budaya turun-temurun yang tidak akan
pernah sirna.
Sumenep merupakan Kabupaten di Jawa Timur yang berada
di ujung paling Timur Pulau Madura, bisa dibilang sebagai salah satu kawasan
yang terpenting dalam sejarah Madura. Kita dapat menjumpai situs-situs
kebudayaan yang sampai hari ini masih menjadi obyek pariwisata. Diantaranya
yang kita ketahui adalah kereta kencana peninggalan raja Sumenep, alun-alun
(taman bunga) yang konsep bangunannya memiliki kekhasan ala bangunan kerajaan,
Masjid Jamik atau Masjid Agung yang terletak di jantung Kota Sumenep, Masjid
ini termasuk salah satu masjid tertua di Indonesia yang dibangun pada tahun
1779 M sampai 1787 M oleh Panembahan Sumolo, Kraton Sumenep
Labang
Mesem merupakan sebutan untuk gerbang keraton yang letaknya tidak jauh dari
Taman Sare. Dalam Bahasa Indonesia, Labang berarti pintu, dan Mesem berarti
senyum. Dari sekian versi tentang asal usul nama Labang Mesem, akhirnya
disimpulkan, bahwa nama Labang Mesem merupakan symbol. Perlambang atas sikap
keramah-tamahan dan penuh senyum dari para raja dan seluruh orang keraton dalam
menerima tamu.
Berdiri megah melintasi perubahan jaman. Guratan
sejarah sebuah kejayaan yang tersisa di ujung Timur Pulau Garam.
Bak potret raksasa dalam sebuah bingkai histori.
Bangunan megah berdiri dengan nuansa yang khas menyiratkan peninggalan masa
silam. Berdiri di kawasan seluas 12 hektar, di tengahnya terdapat Pendopo Agung
dengan ornamen khas berlatar bangunan tua yang tak kalah gagah memancarkan
kharisma. Sebatang pohon Beringin besar berdiri di samping kirinya, menambah
kokoh dan sakral nuansa yang terpancar dari warisan para raja yang dulu pernah
berkuasa.
Menghadap
ke Taman Kota, yang berada di sebelah Timurnya. Dengan gerbang besar, pintu
kayu kuno, yang berdiri kokoh menghadap matahari terbit. Masjid Agung Sumenep,
yang dulu dikenal dengan nama Masjid Jamik, terletak ditengah-tengah Kota
Sumenep.
Asta
tinggi terletak 2,5 meter dari sebelah barat pusaran Kota Sumenep. Walau
bangunan ini sudah cukup tua (dengan usianya yang sudah sekitar 200 tahunan),
namun bangunannya masih kokoh (meski dalam perangkat bangunannya tidak memakai
bahan semen sebagai pelekat dari jejeran batu batanya). Pertama yang akan
dilihat, ketika kita pergi ke tempat yang berada di area ketinggian ini, adalah
bangunan pintu gerbang yang tinggi menjulang dan enak dipandang: karena desain
bangunannya menampakkan kekhasan kunonya dengan karakter kerajaan.
Lambang
Daerah Kabupaten Bangkalan ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 8
Tahun 1971. Lambang Daerah melukiskan suatu keadaan daerah Kabupaten Bangkalan
sebagai salah satu daerah di Pulau Madura, yang mempunyai ciri-ciri khas
sendiri adalah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Beberapa minggu sebelum penyerahan kedaulatan, maka
dengan memperhitungkan kemungkinan gagalnya perundingan Mayor Mangkudiningrat
diangkat sebagai Komandan Batalyon Tentara Nasional Indonesia (Jokotole)
didaerah pendudukan yang anggotanya terdiri dari anggota tentara yang tidak
ikut hijrah ke Jawa
Kegiatan kaum Republikein baik yang ada didalam maupun
yang ada diluar daerah Pendudukan sangat merepotkan Tentara dan Pemerintahan
Belanda/Recomba sehingga sering diadakan penangkapan-penangkapan terhadap
pejuangyang gigih menentang penjajah.
Setelah tertangkapnya Mayor Abu Djamal maka untuk
penghargaan dan kelanjutan perjuangan rakyat Madura oleh Panglima Divisi telah
diangkat Komandan Tentara di Madura yang baru yaitu Mayor Slamet Ali Yunus
dengan tugas untuk melakukan konsolidasi bekas anggota-anggota Resimen 35
Batalyon 35 Jokotole, serta melaksanakan pembentukan Komando Militer di Madura
dengan unsur unsurnya komando2 Distrik Militer pada tiap2 Kabupaten di Madura.
Perintah
Panglima divisi kepada komandan Batlyon 635.
Pada
tanggal 18 Desember 1948 Belanda mengadakan serangan utama ke Yokyakarta dan
selama itu pula di Jawa Timur pasukan Belanda mulai serangan serempak dari
malang melalui Blitar dan Kediri dan dari Mojokerto,Jombang, Kertosono, Madiun
dan sekitarnya dan diutara dari Gresik, Lamongan, Babat, Bojonegoro dan
sekitarnya yang disebut Class II.
Dengan jatuhnya Pulau Madura ke tangan Belanda yang
disusul dengan hijrahnya unsur-unsur perjuangan dan seluruh kekuatan tentara
kita termasuk unsur-unsur Pemerintah Sipilnya ke Jawa maka untuk eksitensinya
rakyat Madura diatas disamping pengkonsilidasian kesatuan-kesatuan Tentara
unsur Resimen 35 Jokotole menjadi Batalyon 635 Jokotole.