|
Simbol Keramahan Masyarakat Madura
Oleh Moh Rusdi
Pemerhati masalah sosial dan kebudayaan
Salah satu pertunjukan kebudayaan yang khas dan unik di Madura adalah adanya lotrengan atau sape sono'. Meski telah dibanjiri berbagai pertunjukan modern yang relatif lebih praktis dan menjanjikan kepuasan yang berlebih, lewat sape sono', masyarakat Madura membuktikan bahwa warisan kebudayaan nenek moyang lebih mempunyai nilai filosofi yang tinggi.
Mayoritas masyarakat menyadari betul bahwa sape sono' adalah suatu khazanah penting yang harus dipelihara dan dilestarikan keberadaannya. Sape sono' merupakan kontes sepasang sapi betina pilihan yang dipajang dan diberi aksesori layaknya pengantin dengan diiringi musik saronen, yaitu sejenis musik yang terdiri atas terompet, kendang, dan gong.
Sepintas pagelaran sape sono' ini mirip karapan sapi, cuma ada perbedaan dalam beberapa hal. Jika dalam karapan sapi adu cepat merupakan kriteria utama untuk menentukan sang juara, dalam sape sono' keanggunan menjadi poin penting penilaian dewan juri.
Dalam pagelaran sape sono', bagian atas leher sapi yang diperlombakan akan dipasangi pangonong, yakni alat untuk mengikat kedua sapi dalam satu posisi. Setelah itu, sapi tersebut didandani pakaian yang bersulamkan benang emas yang berkilauan ketika ditimpa sinar matahari. Pada pakaian tersebut terdapat rumbai-rumbai yang bergelantungan. Yang tidak kalah menariknya pemandangan kulit sapi yang terlihat bersih terawat dengan kuku dan tanduk yang terpelihara pula.
Pergelaran sape sono' merupakan ajang kebudayaan yang tidak kalah menarik jika dibandingkan dengan perlombaan karapan sapi sebagai salah satu pertunjukan yang paling digandrungi di Madura. Tidak mengherankan kemudian pada perkembangannya, kebudayaan ini menjadi aset pariwisata penting di Madura. Seperti halnya karapan sapi, sapi yang menang dalam kontes ini pun juga memiliki harga jual yang cukup mahal hampir menyamai harga sapi karapan.
Kontes sape sono' biasanya diadakan bersamaan dengan acara karapan sapi. Lapangan yang digunakan pun sama seperti lapangan karapan sapi. Hanya saja penampilannya ditujukan sebagai pembuka pelaksanaan karapan sapi.
Pasangan sapi yang mengikuti kontes akan dinilai juri kontes. Penilaian yang diberikan juri meliputi keanggunan, keserasian, keteraturan, dan keselarasan setiap langkah sapi yang diperlombakan, yakni antara satu sapi dan pasangannya, dan antara langkah sapi tersebut dengan musik yang mengiringinya.
Ketika kontes dimulai, dan musik pengiring telah ditabuh, pasangan sapesape sono' yang biasanya terdiri dari dua pasang akan berjalan lurus ke depan dalam jarak sekitar 50 meter. Pada saat itulah, dewan juri akan memberikan penilaian. Keselarasan waktu berjalan, seirama dengan musik pengiring yang menyertainya menjadi unsur penilaian yang menentukan.
Keselarasan, keserasian, dan keteraturan ketika berjalan, kesamaan langkah sape sono' dan kepaduannya dengan musik pengiring saronen menjadi suatu tontonan yang menarik untuk selalu diikuti.
Untuk mencapai keserasian langkah dan musik pengiring ini, setiap sapi terlebih dahulu harus dilatih. Artinya, hanya sapi-sapi yang terlatih yang akan mampu memadukan langkah kakinya dengan irama musik pengiringnya. Latihan yang memerlukan ketelatenan dan kesabaran sehingga sapi mengenal irama musik yang menyertainya. Di garis finis, terdapat labhang saketheng (semacam gapura) yang diberi aneka benda supaya sapi ketakutan ketika melintasi gerbang.
Benda-benda yang dipasang di setiap gapura yang akan dilewati sapi, antara lain, cermin besar, orang-orangan atau topeng dan semacamnya. Unsur penilaian lainnya, ketepatan ketika masuk (nyono') di bawah labhang saketheng yang diberi benda yang menakutkan tadi. Sapi yang tidak takut atau berani dan terlatih dengan baik akan berhenti tepat di bawah labhang saketheng sesuai dengan perintah pengendali atau pemiliknya. Sapi yang tepat berhenti di bawah labhang saketheng itulah yang akan ditetapkan dewan juri sebagai pemenang.
SIMBOL
Salah satu persolan utama yang diperbincangkan dalam lokakarya yang membahas keberlanjutan dan perubahan kebudayaan Madura di KITLV Leiden pada 1991 adalah stereotip manusia Madura (de Jonge, 1995). Sebagaimana diketahui, suku bangsa Madura memang selalu dicitrakan berdasarkan seperangkat pembawaan dan prilakunya yang bernada negatif. Orang Madura begitu mudah menghunus pisau dan mengacungkan celuritnya untuk bercarok karena suatu hal yang sepele.
Darah panas yang mengalir dalam tubuh orang Madura dianggap merupakan akibat mereka tinggal di pulau yang tandus dan gersang. Dapatlah dimengerti jika pengisi waktu terluang mereka adalah karapan sapi, suatu permainan keras yang penuh dengan nuansa keberanian, keperkasaan, dan kejantanan (de java pos, 1912, 10-36: 574).
Namun, apabila berkaca pada kebudayaan sape sono', dengan sendirinya citra umum sosok manusia Madura yang terlukiskan tersebut hanyalah merupakan sebuah irisan melintang yang tidak utuh. Pertunjukan sape sono' membuktikan sikap lemah lembut orang Madura. Karena kontes ini pada intinya dimaksudkan untuk menghormati sapi sebagai salah satu hewan yang banyak berjasa dalam membantu pekerjaan petani di Madura.
Sapi-sapi yang dijadikan sape sono' diberikan makanan, perawatan, dan pemeliharaan kesehatan secara istimewa dengan tujuan mempunyai wajah menarik dan bentuk tubuh indah dipandang. Adanya rumbai-rumbai yang dipasang semenarik mungkin agar sapi yang mengikuti kontes terlihat anggun menandakan di samping masyarakat Madura mempunyai sifat maskulin yang dilambangkan dengan karapan sapi, di luar itu terdapat pula sifat feminin.
Sifat feminin semakin kentara pada saat adegan berjalan anggun dan seindah mungkin ketika pasangan sape sono' diberi iringan musik saronen. Karena di situ pasangan sape sono' dituntut untuk berjalan neter kolenang, lemah gemulai layaknya irama berjalan seorang model beraksi di atas titian peraga. Jadi ia bukanlah lagi menandakan karakter kejantanan sebagaimana karapan sapi yang mempertontonkan ketangkasan berlari, melainkan merupakan sifat kelembutan budi pekerti serta sopan santun.
Dengan melihat kenyataan tersebut, tidaklah tepat menganalisasi bahwa orang Madura identik dengan kejantanan, keberanian, dan kekerasan semata. Masih terdapat dimensi feminin yang menjadi bagian dari jati diri kehidupan orang Madura.
Bukankah di Madura ada budaya sape sono' yang mencerminkan sikap kelemahlembutan orang Madura. Oleh karena itu, menghilangkan stereotip bahwa Madura hanya mengakui sikap jantan, berani, dan terus terang adalah nilai yang terkodifikasi dalam tradisi sape sono'
Views: 2164
|
- Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
- Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
- Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
| |