.

Translate

Daftar Pada Forum

Silahkan Login untuk masuk pada forum kami:





Lupa Kata Sandi?
Bukan Anggota, Silahkan? Daftar

Menu Utama

Kolom Prestasi

Diamond.gif

( Klik Gambar )

Dukung Kami

Kami menerima donasi bagi para donatur yang perduli, melalui paypal dengan jumlah minimum $2 
Nama-nama para donatur akan kami kami masukkan pada halaman khusus donasi. Terima kasih

Pesan Anda

Jumlah Pengunjung

Hari Ini16
Kemarin208
Minggu ini1165
Bulan ini738
Semua148943

(C) Bangkalan-Memory

Support

Polls

Apakah anda mendukung website bangkalan memory ini:
 
Pemerintah Memblokir Situs Porno Pendapat anda ?
 

Jadwal Sholat

Bookmark Kami !

Berlangganan Artikel

Masukkan Alamat email anda:

Delivered by FeedBurner

Powered by FeedBurner

Komunitas

Top Indo

 


MusicPlaylist

 

Website Stats


Links to Site

Home arrow Artikel arrow TOMPANG TRESNA
Selamat Datang di Bangkalan Memory, Website ini merupakan dedikasi kami dalam melestarikan peninggalan Budaya serta Sejarah Kota Bangkalan.
TOMPANG TRESNA Cetak halaman ini
Oleh : Bangkalan Memory   
Jumat, 18 Juli 2008
 
Tompang Tresna merupakan tradisi yang unik di Wilayah Bangkalan, yakni upacara untuk mengukur kesucian penganten wanita pada malam pertama. Upacara ini secara khusus terkait pada pasangan penganten baru yang masih perjaka dan perawan. Penganten baru yang duduk di pelaminan, pada malam harinya (setelah para undangan meninggalkan upacara pesta) pasangan penganten menikmati malam pertama. Upacara dilaksanakan di rumah penganten putri. Sewaktu pasangan penganten memasuki kamar penganten, diruang tamu dibacakan tembang macapat, disebut "Mamaca" atau "Macapatan". 
 
Sang mertua laki-laki menyerahkan keris ke pihak penganten pria. Pada malam itulah,pasangan penganten diberi izin untuk melakukan kewajiban suami dan istri. Bila malam pertama itu telah berlangsung, maka pihak penganten pria akan melemparkan keris tersebut ke luar kamar. Kode yang difungsikan sebagai berikut :
  1. Keris dilempar tanpa kerangka artinya penganten lelaki telah berhasil memetik kegadisan oenganten putri, dan terbukti penganten putri masih perawan.
  2. Keris dilempar dalam keadaan kerangka (bersarung) artinya penganten lelaki telah menggauli penganten wanita, tetapi penganten wanita, tetapi pengantin wanita sudah tidak perawan lagi.
Bila hal itu terjadi, maka aib berada di pihak keluarga wanita. Sehubungan dengan tradisi inilah maka masyarakat Madura sangat ketat menjaga anak wanita (menjaga kegadisan wanita yang belum menikah).
 
Sesudah itu "macapatan" dihentikan. Upacara ini dikenal sebagai tradisi penganten pesisiran. Konon tradisi ini hanya diberlakukan dilingkungan keluarga bangsawan (priyayi) tetapi akhirnya berkembang dilingkungan rakyat jelata. Latar peristiwa upacara bercorak ke-islam-an dan dipadukan dengan tetembangan (macapat).
 
 
Urutan Upacara Dalam Gelar Peragaan :
 
1.  Iringan giro Resbhaja'an
Persiapan keluarga penganten. Penganten wanita dihadirkan di pelaminan, disaksikan oleh pinisepuh (iringan giro Gresian).
 
2.  Iringan Musik Hadrah - Salawat Nabi
Rombongan penganten pria datang, keluarga penganten wanita menyambut di depan pintu atau di halaman rumah. Terjadilah dialog diantara wakil orang tua penganten (dua orang pinisepuh), sendelan serta tukar kembang, dilanjutkan dengan serah terima penganten pria kepada keluarga penganen pria kepada keluarga wanita. (Iringan musik Hadrah-Pentas/Demontrasi Keterampilan).
 
3.  Temu Penganten
Temu penganten dilaksanakan pada saat hadrah membaca "Zikir". Upacara temu penganten dipimpin oleh sesepuh. Kedua penganten pria disuruh sungkem, tanda berbakti kepada orang tua. Sesudah itu penganten didudukkan di pelaminan. Upacara temu penganten ini dilanjutkan dengan upacara sambutan dari keluarga wanita (selaku tuan rumah). Sesudah makan bersama (resepsi), rombongan hadrah pulang ke rumah masing-masing.
 
4.  Mamaca, Tokang dan Tegges
Kegiatan mamaca atau macapatan. Puhak orang tua wanita menyerahkan pusaka keris ke penganten pria. Selanjutnya penganten pria disuruh tidur (malam pertamapenganten). Upacara "mamaca" ini termasuk "La'mella'/melle'an". Penganten pria dari balik kmar melemparkan keris tanpa rangka (Jw. Warangka/sarung keris) sebagai bukti bahwa penganten wanita masih suci (masih perawan). Orang tua wanita mengucapkan syukur (Alhamdulillah Tumpang Tresna Onggu).
 
5.  Penganten meminum "Jamu Tradisional"
Bila upacara tersebut usai, maka orang tua wanita mempersapkan "jamu" (obat tradisional" agar kesehatan penganten tetap terjaga. Penganten pria menyerahkan keris ke mertua lelaki, keris dikerangkakan (Jw. Diwarangkani). Penganten pria sujud ke mertua. Kedua penganten meminum jamu, sesudah itu menuju ke kamar mandi. Kedua orang tua penganten sangat bersyukur karena anak putrinya telah menjaga martabat orang tua. "Sateya kan la padha Tompang Tresna", demikian upacara orang tua penganten wanita.
Upacara paripurna.
 



Views: 1826

  Komentar (1)
RSS comments
 1 Ditulis oleh Alamat e-mail ini telah dilindungi dari tindakan spam bots, Anda butuh Javascript dan diaktifkan untuk melihatnya website, pd 17-08-2008 21:18
pegadaian 8) klo ama belah Duren sama ga ?

Beri Komentar
  • Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail
Homepage
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code
I wish being prevented by email of the comments which will follow

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Hak Cipta © 2007,2008,2009 Bangkalan-Memory
email : admin@bangkalan-memory.net