Tompang
Tresna merupakan tradisi yang unik di Wilayah Bangkalan, yakni upacara untuk
mengukur kesucian penganten wanita pada malam pertama. Upacara ini secara
khusus terkait pada pasangan penganten baru yang masih perjaka dan perawan. Penganten
baru yang duduk di pelaminan, pada malam harinya (setelah para undangan
meninggalkan upacara pesta) pasangan penganten menikmati malam pertama. Upacara
dilaksanakan di rumah penganten putri. Sewaktu pasangan penganten memasuki
kamar penganten, diruang tamu dibacakan tembang macapat, disebut "Mamaca" atau
"Macapatan".
Sang mertua laki-laki menyerahkan keris ke pihak
penganten pria. Pada malam itulah,pasangan penganten diberi izin untuk
melakukan kewajiban suami dan istri. Bila malam pertama itu telah berlangsung,
maka pihak penganten pria akan melemparkan keris tersebut ke luar kamar. Kode
yang difungsikan sebagai berikut :
Keris dilempar tanpa kerangka artinya penganten lelaki telah
berhasil memetik kegadisan oenganten putri, dan terbukti penganten putri masih
perawan.
Keris dilempar dalam keadaan kerangka (bersarung) artinya
penganten lelaki telah menggauli penganten wanita, tetapi penganten wanita,
tetapi pengantin wanita sudah tidak perawan lagi.
Bila hal itu terjadi, maka aib berada di pihak keluarga
wanita. Sehubungan dengan tradisi inilah maka masyarakat Madura sangat ketat
menjaga anak wanita (menjaga kegadisan wanita yang belum menikah).
Sesudah itu "macapatan" dihentikan. Upacara ini dikenal
sebagai tradisi penganten pesisiran. Konon tradisi ini hanya diberlakukan
dilingkungan keluarga bangsawan (priyayi) tetapi akhirnya berkembang
dilingkungan rakyat jelata. Latar peristiwa upacara bercorak ke-islam-an dan
dipadukan dengan tetembangan (macapat).
Urutan Upacara
Dalam Gelar Peragaan :
1. Iringan giro Resbhaja'an
Persiapan keluarga penganten.
Penganten wanita dihadirkan di pelaminan, disaksikan oleh pinisepuh (iringan
giro Gresian).
2. Iringan Musik Hadrah - Salawat
Nabi
Rombongan penganten pria datang,
keluarga penganten wanita menyambut di depan pintu atau di halaman rumah.
Terjadilah dialog diantara wakil orang tua penganten (dua orang pinisepuh),
sendelan serta tukar kembang, dilanjutkan dengan serah terima penganten pria
kepada keluarga penganen pria kepada keluarga wanita. (Iringan musik
Hadrah-Pentas/Demontrasi Keterampilan).
3. Temu Penganten
Temu penganten dilaksanakan pada
saat hadrah membaca "Zikir". Upacara temu penganten dipimpin oleh sesepuh. Kedua
penganten pria disuruh sungkem, tanda berbakti kepada orang tua. Sesudah itu
penganten didudukkan di pelaminan. Upacara temu penganten ini dilanjutkan
dengan upacara sambutan dari keluarga wanita (selaku tuan rumah). Sesudah makan
bersama (resepsi), rombongan hadrah pulang ke rumah masing-masing.
4. Mamaca, Tokang dan Tegges
Kegiatan mamaca atau macapatan.
Puhak orang tua wanita menyerahkan pusaka keris ke penganten pria. Selanjutnya
penganten pria disuruh tidur (malam pertamapenganten). Upacara "mamaca" ini
termasuk "La'mella'/melle'an". Penganten pria dari balik kmar melemparkan keris
tanpa rangka (Jw. Warangka/sarung keris) sebagai bukti bahwa penganten wanita
masih suci (masih perawan). Orang tua wanita mengucapkan syukur (Alhamdulillah
Tumpang Tresna Onggu).
5. Penganten meminum "Jamu
Tradisional"
Bila upacara tersebut usai, maka
orang tua wanita mempersapkan "jamu" (obat tradisional" agar kesehatan
penganten tetap terjaga. Penganten pria menyerahkan keris ke mertua lelaki,
keris dikerangkakan (Jw. Diwarangkani). Penganten pria sujud ke mertua. Kedua
penganten meminum jamu, sesudah itu menuju ke kamar mandi. Kedua orang tua
penganten sangat bersyukur karena anak putrinya telah menjaga martabat orang
tua. "Sateya kan la padha Tompang Tresna", demikian upacara orang tua penganten
wanita.
Upacara paripurna.
Views: 257
Komentar (1)
Beri Komentar
Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.