.

Translate

Daftar Pada Forum

Silahkan Login untuk masuk pada forum kami:





Lupa Kata Sandi?
Bukan Anggota, Silahkan? Daftar

Menu Utama

Kolom Prestasi

Diamond.gif

( Klik Gambar )

Dukung Kami

Kami menerima donasi bagi para donatur yang perduli, melalui paypal dengan jumlah minimum $2 
 
 
Nama-nama para donatur akan kami kami masukkan pada halaman khusus donasi. Terima kasih

Pesan Anda

Jumlah Pengunjung

Hari Ini30
Kemarin289
Minggu ini1278
Bulan ini3313
Semua229813

(C) Bangkalan-Memory

Support

Polls

Apakah anda mendukung website bangkalan memory ini:
 
Pemerintah Memblokir Situs Porno Pendapat anda ?
 

Jadwal Sholat

Bookmark Kami !

Berlangganan Artikel

Masukkan Alamat email anda:

Delivered by FeedBurner

Powered by FeedBurner

Komunitas

Top Indo

 


MusicPlaylist

 

Website Stats


Links to Site

Home arrow Artikel arrow TARI JARAN KENCA’
Selamat Datang di Bangkalan Memory, Website ini merupakan dedikasi kami dalam melestarikan peninggalan Budaya serta Sejarah Kota Bangkalan.
TARI JARAN KENCA’ Cetak halaman ini
Oleh : Bangkalan Memory   
Kamis, 03 Juli 2008
 
Konon pada abad ke-18 di Madura Marat tepatnya di Kecamatan Socah saat kemanten pria akan masuk demarkasi kemanten wanita. Biasanya dialog itu dibawakan oleh beberapa orang tua-tua yang didampingi oleh seorang pendekar. Dipihak kemanten wanita telah tersedia beberapa orang tua-tua pula yang didampingi oleh seorang pendekar. Awalnya dialog dibawakan oleh para orang tua dari pihak temanten pria, biasanya dengan cara berpantun. Kemudian ada jawaban dari para orang tua pihak temanten wanita. Apabila dialog tersebut ada ketidakcocokan, biasanya terjadi perkelahian hebat. Sebaliknya apabila dialig itu bisa cocok, maka temanten pria bisa masuk ke keluarga temanten wanita.
 
Masuknya temanten pria biasanya disambut dengan "kuda yang bisa menari". Kuda-kuda tadi jauh sebelumnya memang sudah dilatih untuk bisa menari dengan gaya khas. Kuda itu bisa berjoget, bahkan duduk bersila seraya menyembah. Nah kuda itulah yang lazimnya disebut "Jaran Kenca'" (kuda yang bisa menari), biasanya kuda tadi menari bersama dua orang bocah yang lazim disebut "Mantan Toddhu'", Memang, kedatangan temanten pria amat meriah dan diselingi suara bunyi-bunyian khas Madura Barat. Selain itu ada juga para wanita cantik yang ikut menyambut kedatangan rombongan temanten pria, dengan membawa kue terbuat dari ketan yang disebut "tettel".
 
Dipilihnya makanan "tettel" ternyata mengandung arti, bahwa nantinya dua sejoli diharapkan hidup rukun abadi laksana ketan yang selalu lengket dan sulit dilepaskan. Selain itu juga dibawakan beberapa sisir pisang yang artinya dua sejoli itu janganlah mati sebelum mempunyai anak beranak laksana pohon pisang yang berbuah beberapa sisir.
 
Jaman silih berganti, budaya bangsa sudah banyak berubah. Maka wajar apabila tarian "jaran kenca' ini kehadirannya sudah mulai pudar. Tarian yang menggambarkan seekor kuda yang tidak kalah dengan manusia dalam berolah tari, di Kabupaten Bangkalan pun sudah jarang digelarkan, namun ada satu tekad dari kita untuk menggali seni dan budaya Bangkalan, yang selanjutnya dikembangkan agar dikenal hingga ke pelosok Nusantara.
 



Views: 2558

  Be first to comment this article
RSS comments

Beri Komentar
  • Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail
Homepage
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code
I wish being prevented by email of the comments which will follow

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Hak Cipta © 2007,2008,2009 Bangkalan-Memory
email : admin@bangkalan-memory.net