|
Oleh : Bangkalan Memory
|
|
Minggu, 15 Juni 2008 |
Seni
Tari tradisi Bahhong ini berasal dari sebuah Desa Katol Barat yang terbilang
gersang dan tandus di daerah Kecamatan Geger, Kabupaten Bangkalan. Walaupun
desa ini gersang dan tandus tetapi di desa ini kaya akan budaya yang perlu
dikembangkan, salah satunya adalah kesenian Bahhong.
Bahhong bersal dari kata "Bah" yang berarti manembah,
berdoa, memuji dan kata "Hong" yang
berarti Tuhan dalam istilah Hindu kuno.
Jadi Bahhong bermakna memuji kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.
Kesenian ini merupakan kesenian yang lahir di jaman peralihan Hindu ke Islam.
Hal ini dapat diketahui dari syair dan bentuk sesajen yang harus disajikan
sebelum Bahhong digelar. Kalau kita cermati dari syair lagu yang sangat sulit
dimengerti, syair itu berisi pujian atau pemujaan orang-orang Hindu kuno.
Salah satu yang unik dari kesenian ini adalah bahwa penyaji pujian Bahhong ini
tidak boleh dilakukan oleh orang yang bukan keturunan langsung dari Buju' yang
menciptakannya. Karena menurut mereka kalau hal tersebut dilakukan maka akan
mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kesurupan yang
berkepanjangan bahkan bisa sampai gila, sejak awal kesenian ini sampai sekarang
para pelaku merupakan keturunan langsung dari buju'. Disaat acara Bahhong ini
dilaksanakan, penonton dilarang tertawa atau menertawai perilaku atau
syair-syair yang sulit dimengerti. Bahkan pemotretanpun dilarang karena akan
berakibat hal-hal yang tidak dinginkan. Untuk memotret Bahhong ini perlu ada
ijin dari pimpinan kelompok tetapi resiko ditanggung oleh pemotret.
Pagelaran Bahhong ini terdiri dari 7 (tujuh) babak atau dalam istilah mereka
disebut "Petto' Grabhagan".
Ada salah satu babak yang menarik yaitu Grabhagan Pajuan (menari) dimana pada
babak ini penonton yang berminat diperkenankan berdiri seraya memberi tanda
selamat berupa uang yang diselipkan ditutup kepala atau saku pimpinan kelompok
ini. Hal ini biasanya dilakukan oleh penonton yang mempunyai hajat atau
keperluan. Uang yang diberikan pun bervariasi karena kelompok pujian ini sejak
awal sangat dilarang untuk menentukan nilai atau harga dari pagelarannya.
Hingga saat ini kesenian ini tetap eksis di jaman yang semakin modern dan
berteknologi ini.
Views: 3178
|
- Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
- Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
- Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
| |