Upacara
"Temu Pengantin" yang berasal dari daerah pesisir tepatnya Banyusangka
Kecamatan Tanjung Bumi, telah ada sejak puluhan tahun lalu dan tetap
dilestarikan oleh warga setempat sebagai budaya turun-temurun yang tidak akan
pernah sirna.
Oleh warga
Banyusangka, upacara "Temu Pengantin" itu lazim disebut "Ka' Okke'", yang
ternyata menjadi asset wisata budaya bagi Kabupaten Bangkalan. Pada festival
penganten adat dalam rangkaian Pekan Budaya Jawa Timur tahun 1989 di Surabaya,
upacara adat penganten Ka' Okke' berhasil tampil dalam sepuluh terbaik.
Membanggakan, memang.
Ka' Okke'
berasal dari kata Okke' yang berarti membuka sesuatu dengan alat kecil seperti
obeng. Dalam hal upacara "temu pengantin", ada dua tokoh atau pujangga yakni
satu dari mempelai wanita dan satu lagi dari mempelai pria. Kedua pujangga tadi
kemudian ber-Ka' Okke' untuk mempertemukan mempelai pria dan wanita. Kedua
pujangga atau dikenal dengan pengidung, saling berdialog dalam tembangan yang
syairnya bertema kasmaran dan artate.
Dialog dalam
bentuk tetembangan dilakukan didepan rumah mempelai waita, saat mana mempelai
pria jongkok sambil menyembah di luar pagar. Selesai pujangga dari pihak
mempelai wanita memberi sahutan dari dalam pagar, maka barulah mempelai pria
diperbolehkan masuk untuk menemui pasangan yang dicintainya itu. Begitu kedua
mempelai dipertemukan, mereka tidak duduk kuade seterti umumnya pengantin
lainnya. Kedua mempelai justru duduk dilantai beralaskan tikar. Setelah
keduanya melakukan sembah pada orang tua serta para kerabat, mempelai wanita
kemudian dipangku oleh pasangannya di depan para undangan.
Adapun busana
yang dikenakan pengantin pria dan riasan bagi pengantin wanita, dipengaruhi
tata busana Suku Banjar di Kalimantan dan Nusa Tenggara yang kemudian dipadu
dengan pernik-pernik gaya khas Madura sendiri. Pengaruh-pengaruh semacam itu bukan berarti
adanya pergesekan dengan budaya pendatang, tetapi semua itu akibat banyaknya
penduduk pesisiran Madura yang telah mempelajarinya dari daerah lain diluar
pulau. Maklum, kehidupan mereka sebagai nelayan biasa berlayar hingga ke
wilayah-wilayah yang jauh sampai luar pulau.
Adapun urutan tata Upacara Ka' Okke' secara rinci
sebagai berikut :
-
Keluarga pengantin
wanita menunggu kedatangan rombongan pengantin pria.
-
Apabila sudah tiba, di
luar pagar rumah itu sipengantin pria jungkok sambil menyembah.
-
Pujangga pihak
pengantin pria mencabut keris kemantin, dianggat dan mulailah dia berdialog dan
menembang.
-
Pujangga pihak wanita menyahutinya,
juga dengan menembang.
- Dialog dan tembang
dilakukan diluar pagar dan diberi sahutan dari dalam pagar.
-
Terakhir kedua
pengantin dipertemukan.
Kini Ka' Okke'
dihidupkan kembali, dengan cara sering mempergelarkan upacara Ka' Okke' di Pendopo
Kabupaten Bangkalan. Ternyata mendapat perhatian cukup besar dari kalangan
muda-mudi, bahkan mereka ingin kelak menjadi kemantin bakal menggunakan tata
cara perkawinan adat Ka' Okke'. Upaya lain menjadikan adat pengantin Ka' Okke'
sebagai paket Budaya Kabupaten Bangkalan. Karena adat upacaranya yang mempesona
dan keindahan busana pengantinnya itulah, kelak bisa digemari wisatawan asing
dan domestik.
Views: 220
|
- Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
- Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
- Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
| |