.

Daftar Pada Forum

Silahkan Login untuk masuk pada forum kami:





Lupa Kata Sandi?
Bukan Anggota, Silahkan? Daftar

Menu Utama

Kolom Prestasi



( Klik Gambar )

Dukung Kami

Kami menerima donasi bagi para donatur yang perduli, melalui paypal dengan jumlah minimum $2 
Nama-nama para donatur akan kami kami masukkan pada halaman khusus donasi. Terima kasih

Pesan Anda

Jumlah Pengunjung

Hari Ini167
Kemarin236
Minggu ini803
Bulan ini1451
Semua45385

(C) Bangkalan-Memory

Support

Polls

Apakah anda mendukung website bangkalan memory ini:
 
Pemerintah Memblokir Situs Porno Pendapat anda ?
 

Jadwal Sholat

Bookmark Kami !

Berlangganan Artikel

Masukkan Alamat email anda:

Delivered by FeedBurner

Powered by FeedBurner

Komunitas

Top Indo

 


MusicPlaylist

 

Website Stats


Links to Site

Home arrow Artikel arrow Meleburnya Status Sosial di Asta Tinggi
Selamat Datang di Bangkalan Memory, Website ini merupakan dedikasi kami dalam melestarikan peninggalan Budaya serta Sejarah Kota Bangkalan.
Meleburnya Status Sosial di Asta Tinggi Cetak halaman ini
Oleh : Bangkalan Memory   
Rabu, 07 Mei 2008
 
astatinggi5.jpg
 
Asta tinggi terletak 2,5 meter dari sebelah barat pusaran Kota Sumenep. Walau bangunan ini sudah cukup tua (dengan usianya yang sudah sekitar 200 tahunan), namun bangunannya masih kokoh (meski dalam perangkat bangunannya tidak memakai bahan semen sebagai pelekat dari jejeran batu batanya). Pertama yang akan dilihat, ketika kita pergi ke tempat yang berada di area ketinggian ini, adalah bangunan pintu gerbang yang tinggi menjulang dan enak dipandang: karena desain bangunannya menampakkan kekhasan kunonya dengan karakter kerajaan.
 
Kemudian di dalam area Asta, kita akan menemukan jejeran makam dari beberapa raja Sumenep beserta kerabatnya, yang dalam catatan sejarah Sumenep mereka adalah orang-orang penting yang juga ikut andil dalam perkembangan Sumenep dalam konteks ekonomi, politik, sosial dan budaya.  Namun, sebelum memasuki bangunan khusus, tempat dimana makam para raja dan wali sumenep disakralkan, terlebih dahulu kita harus mengahadap petugas yang menjaga asta untuk mengisi daftar tamu. Selanjutnya, kita akan mendapatkan banyak cerita sejarah dari petugas, terkait dengan  sejarah kehidupan serta perjuangan para raja dalam melakukan pembangunan di Kerajaan Sumenep kala itu.
 
astatinggi2.jpg

Selain makam para raja Sumenep, di sana kita juga akan menjumpai makam Pangeran Diponegoro. Makam sang pangeran ini berada pada bangunan khusus, yang terletak di belakang area asta tinggi. Selain menunjukkan makamnya, petugas juga akan menceritakan secara gamblang terkait dengan perjalanan sang pahlawan ini, lengkap dengan bukti sejarahnya. bahwa ternyata makam itu merupakan makam asli dari tokoh sejarah nasional itu. Kemudian kita juga akan mengetahui bahwa makam Diponegoro yang terletak di Mataram itu, merupakan makam dari orang yang dulu ditugaskan oleh pangeran untuk menyamar menjadi dirinya.
 
astatinggi3.jpg

Hampir setiap hari, tempat ini tidak pernah absen dari keramaian pengunjung. Selain dijadikan tempat wisata, tempat ini juga banyak diziarahi oleh masyarakat secara umum. Tentunya. mereka terdiri dari berbagai macam status sosial. Diantaranya ada dari kalangan santri, pejabat, petani, nelayan, seniman (sinden, kelompok musik tradisional saronen), wirausahawan bahkan dari kalangan blater yang hobi kerapan sapi pun datang ke tempat yang diyakini mustajabah ini untuk cari wangsit/hoki atas kemenangannya dalam kompetisi kerapan sapinya.
 
astatinggi4.jpg
 
Khusus pada Minggu pagi (antara jam 5.00 sampai 6.30an), tempat yang terdapat tumbuh-tumbuhan hijau nan indah ini, juga dijadikan tempat favoritnya anak muda yang datang dari berbagai macam tempat. Ada yang berolahraga dengan larai-lari pagi, jalan-jalan sambil bermesraan dengan pasangan masing-masing, juga ada yang hanya mengisi waktu liburnya dengan sebatas terbar pesona semata. Adapun alasan mereka, menjadikan asta tinggi sebagai tempat yang paling strategis untuk mengawali aktivitas hari liburnya, adalah karena posisi geografisnya yang berada di ketinggian dalam peta geografi kabupaten adipura ini. Sehingga, di sana mereka akan mendapatkan keindahan panorama alam Kabupaten Sumenep.
 
Santri beranggapan bahwa, kepergiaannya ke asta tinggi di samping tawassul kepada asta raja-raja Sumenep dan para wali, mereka juga meyakini dengan berziarah, akan mengingat mereka atas kematiaan. Hal itu diungkapkan oleh almarhum KH. Tsabit Khazin (mantan pengasuh Pondok Pesantren An-Nuqoyah Guluk-guluk). Walaupun tidak semua santri berziarah bersama rombongannya, akan tetapi, banyak juga rombongan santri dari berbagai macam organisasi keagamaan (jama'ah istighasah, tahlilan, sholawatan,dll) yang berziarah dengan membacakan do'a di sana.
 
astatinggi1.jpg
 
Berbeda dengan kalangan santri, seniman sinden mendatangi asta tinggi hanya untuk berdo'a agar profesi yang digelutinya dapat laris di pasaran seni tradisional. Begitu pula dengan kelompok saronen, mereka biasanya datang dengan diajak para penghobi kerapan sapi yang memenangkan pertandingan. Dengan memainkan musik saronen di depan gerbang asta tinggi, mereka mengekspresikan rasa syukurnya atas kemenangan dalam pertandingan kerapan sapi.
 
Dari kedua kelompok masyarakat (seniman dan santri) itu, setidaknya ada perbedaan yang signifikan dalam mengekspresikan ziarah kubur. Perbedaan itu kemudian berangkat dari keyakinan masing-masing terhadap ekspresi berdo'a atau bersyukur di depan asta tinggi Sumenep. Bagi kalangan santri, ekspresi ziarah kubur seharusnya dapat dilakukan dengan hanya membacakan doa buat almarhum. Ada dampak terhadap almarhum yang ada di alam kubur, dan dampak terhadap kita yang masih berada di dunia ini. Dampak yang dimaksud bisa pengampunan dosa bagi yang dikirimi doanya dan berupa barokah terhadap hidup kita yang masih bisa menikmati hidup.
 
Adapun bagi seniman saronen, ekspresi ziarah kubur tidak harus berupa do'a-do'a arabiyyah seperti yang dilakukan oleh kelompok santri. Ekspresi yang dimaksud seniman lokal itu adalah ekspresi yang termanifestasikan dalam bentuk lirik lagu dari kejungan (bahasa Madura: nyanyian) yang mereka lantunkan denga diiringi musik saronennya. Barangkali itu bentuk kontekstualisasi kebudayaan di Sumenep. Akibat dari tindakan itu, banyak kalangan santri yang memberi kritikan, mereka menggap bahwa ekspresi itu berpengaruh terhadap sakralitas ritual keagamaan. Jangankan memainkan saronen di depan asta tinggi, di tempat lain pun saronen sudah dianggap musik yang dapat merusak moralitas masyarakat. Karena di dalamnya terdapat aksi seni, berupa kejungan yang berdampak terhadap keharmonisan hubungan rumah tangga.
 
fotindo_100_0907_kopie_small.jpg

Biasanya, musik saronen pada umumnya dijadikan media bagi masyarakat yang menyukainya untuk mengirimkan salam sayang pada orang yang special dalam hidupnya. Hal itu tidak hanya dilakukan oleh kalangan muda,  kalangan tua yang sudah bersuami istri pun menikmati praktek tersebut. Sehingga dari fakta itu, dapat dijadikan salah satu alasan bagi kalangan santri untuk mengungkapkan keprihatinannya atas ekspresi kelompok saronen di tempat yang dikeramatkan seperti halnya asta tinggi.
 
Terlepas dari kontroversi antara seniman saronen dan santri itu, yang pasti Asta Tinggi merupakan tempat yang dapat mempertemukan semua kalangan, yang notabene tidak dapat bertemu dalam konteks realitas kebudayaan yang terjadi. Begitu pula dengan perbedaan status sosial, asta tinggi dapat menjadikan stratifikasi sosial melebur dalam posisi yang sejajar. Karena di asta tinggilah semua orang yang memiliki identitas sosial itu, sama-sama memiliki status sebagai penziarah astanya para raja dan kerabatnya.  Sehingga perbedaan strata tidak lagi ada dalam area asta.
 

Views: 292

  Be first to comment this article
RSS comments

Beri Komentar
  • Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail
Homepage
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code
I wish being prevented by email of the comments which will follow

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >