|
Asta
tinggi terletak 2,5 meter dari sebelah barat pusaran Kota Sumenep. Walau
bangunan ini sudah cukup tua (dengan usianya yang sudah sekitar 200 tahunan),
namun bangunannya masih kokoh (meski dalam perangkat bangunannya tidak memakai
bahan semen sebagai pelekat dari jejeran batu batanya). Pertama yang akan
dilihat, ketika kita pergi ke tempat yang berada di area ketinggian ini, adalah
bangunan pintu gerbang yang tinggi menjulang dan enak dipandang: karena desain
bangunannya menampakkan kekhasan kunonya dengan karakter kerajaan.
Kemudian di dalam area Asta, kita akan
menemukan jejeran makam dari beberapa raja Sumenep beserta kerabatnya, yang dalam
catatan sejarah Sumenep mereka adalah orang-orang penting yang juga ikut andil
dalam perkembangan Sumenep dalam konteks ekonomi, politik, sosial dan
budaya. Namun, sebelum memasuki bangunan khusus, tempat dimana makam para
raja dan wali sumenep disakralkan, terlebih dahulu kita harus mengahadap
petugas yang menjaga asta untuk mengisi daftar tamu. Selanjutnya, kita akan
mendapatkan banyak cerita sejarah dari petugas, terkait dengan sejarah
kehidupan serta perjuangan para raja dalam melakukan pembangunan di Kerajaan
Sumenep kala itu.
Selain makam para raja Sumenep, di sana kita juga akan
menjumpai makam Pangeran Diponegoro. Makam sang pangeran ini berada pada
bangunan khusus, yang terletak di belakang area asta tinggi. Selain menunjukkan
makamnya, petugas juga akan menceritakan secara gamblang terkait dengan
perjalanan sang pahlawan ini, lengkap dengan bukti sejarahnya. bahwa ternyata
makam itu merupakan makam asli dari tokoh sejarah nasional itu. Kemudian kita
juga akan mengetahui bahwa makam Diponegoro yang terletak di Mataram itu,
merupakan makam dari orang yang dulu ditugaskan oleh pangeran untuk menyamar
menjadi dirinya.
Hampir setiap hari, tempat ini tidak pernah
absen dari keramaian pengunjung. Selain dijadikan tempat wisata, tempat ini
juga banyak diziarahi oleh masyarakat secara umum. Tentunya. mereka terdiri
dari berbagai macam status sosial. Diantaranya ada dari kalangan santri,
pejabat, petani, nelayan, seniman (sinden, kelompok musik tradisional saronen),
wirausahawan bahkan dari kalangan blater yang hobi kerapan sapi pun datang ke
tempat yang diyakini mustajabah ini untuk cari wangsit/hoki atas kemenangannya
dalam kompetisi kerapan sapinya.
Khusus pada Minggu pagi (antara jam 5.00
sampai 6.30an), tempat yang terdapat tumbuh-tumbuhan hijau nan indah ini, juga
dijadikan tempat favoritnya anak muda yang datang dari berbagai macam tempat. Ada yang
berolahraga dengan larai-lari pagi, jalan-jalan sambil bermesraan dengan
pasangan masing-masing, juga ada yang hanya mengisi waktu liburnya dengan sebatas
terbar pesona semata. Adapun alasan mereka, menjadikan asta tinggi sebagai
tempat yang paling strategis untuk mengawali aktivitas hari liburnya, adalah
karena posisi geografisnya yang berada di ketinggian dalam peta geografi
kabupaten adipura ini. Sehingga, di sana mereka akan
mendapatkan keindahan panorama alam Kabupaten Sumenep.
Santri beranggapan bahwa, kepergiaannya ke
asta tinggi di samping tawassul kepada asta raja-raja Sumenep dan para wali,
mereka juga meyakini dengan berziarah, akan mengingat mereka atas kematiaan.
Hal itu diungkapkan oleh almarhum KH. Tsabit Khazin (mantan pengasuh Pondok
Pesantren An-Nuqoyah Guluk-guluk). Walaupun tidak semua santri berziarah
bersama rombongannya, akan tetapi, banyak juga rombongan santri dari berbagai
macam organisasi keagamaan (jama'ah istighasah, tahlilan, sholawatan,dll) yang
berziarah dengan membacakan do'a di sana.
Berbeda dengan kalangan santri, seniman sinden mendatangi asta tinggi hanya
untuk berdo'a agar profesi yang digelutinya dapat laris di pasaran seni
tradisional. Begitu pula dengan kelompok saronen, mereka biasanya datang dengan
diajak para penghobi kerapan sapi yang memenangkan pertandingan. Dengan
memainkan musik saronen di depan gerbang asta tinggi, mereka mengekspresikan
rasa syukurnya atas kemenangan dalam pertandingan kerapan sapi.
Dari kedua kelompok masyarakat (seniman dan
santri) itu, setidaknya ada perbedaan yang signifikan dalam mengekspresikan
ziarah kubur. Perbedaan itu kemudian berangkat dari keyakinan masing-masing
terhadap ekspresi berdo'a atau bersyukur di depan asta tinggi Sumenep. Bagi
kalangan santri, ekspresi ziarah kubur seharusnya dapat dilakukan dengan hanya
membacakan doa buat almarhum. Ada dampak terhadap almarhum yang ada di alam kubur, dan dampak
terhadap kita yang masih berada di dunia ini. Dampak yang dimaksud bisa
pengampunan dosa bagi yang dikirimi doanya dan berupa barokah terhadap hidup
kita yang masih bisa menikmati hidup.
Adapun bagi seniman saronen, ekspresi
ziarah kubur tidak harus berupa do'a-do'a arabiyyah seperti yang dilakukan oleh
kelompok santri. Ekspresi yang dimaksud seniman lokal itu adalah ekspresi yang
termanifestasikan dalam bentuk lirik lagu dari kejungan (bahasa Madura:
nyanyian) yang mereka lantunkan denga diiringi musik saronennya. Barangkali itu
bentuk kontekstualisasi kebudayaan di Sumenep. Akibat dari tindakan itu, banyak
kalangan santri yang memberi kritikan, mereka menggap bahwa ekspresi itu
berpengaruh terhadap sakralitas ritual keagamaan. Jangankan memainkan saronen
di depan asta tinggi, di tempat lain pun saronen sudah dianggap musik yang
dapat merusak moralitas masyarakat. Karena di dalamnya terdapat aksi seni,
berupa kejungan yang berdampak terhadap keharmonisan hubungan rumah tangga.
Biasanya, musik saronen pada umumnya
dijadikan media bagi masyarakat yang menyukainya untuk mengirimkan salam sayang
pada orang yang special dalam hidupnya. Hal itu tidak hanya dilakukan oleh
kalangan muda, kalangan tua yang sudah bersuami istri pun menikmati
praktek tersebut. Sehingga dari fakta itu, dapat dijadikan salah satu alasan
bagi kalangan santri untuk mengungkapkan keprihatinannya atas ekspresi kelompok
saronen di tempat yang dikeramatkan seperti halnya asta tinggi.
Terlepas dari
kontroversi antara seniman saronen dan santri itu, yang pasti Asta Tinggi
merupakan tempat yang dapat mempertemukan semua kalangan, yang notabene tidak
dapat bertemu dalam konteks realitas kebudayaan yang terjadi. Begitu pula
dengan perbedaan status sosial, asta tinggi dapat menjadikan stratifikasi
sosial melebur dalam posisi yang sejajar. Karena di asta tinggilah semua orang
yang memiliki identitas sosial itu, sama-sama memiliki status sebagai penziarah
astanya para raja dan kerabatnya. Sehingga perbedaan strata tidak lagi
ada dalam area asta.
Views: 293
|
- Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
- Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
- Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
| |