|
Perintah
Panglima divisi kepada komandan Batlyon 635.
Pada
tanggal 18 Desember 1948 Belanda mengadakan serangan utama ke Yokyakarta dan
selama itu pula di Jawa Timur pasukan Belanda mulai serangan serempak dari
malang melalui Blitar dan Kediri dan dari Mojokerto,Jombang, Kertosono, Madiun
dan sekitarnya dan diutara dari Gresik, Lamongan, Babat, Bojonegoro dan
sekitarnya yang disebut Class II.
Bersama
dengan itu Panglima Divisi memberi perintah kepada Batalyon 635 untuk menyusup
kembali ke Madura sesuai dengan sistem Wehrkreis dipimpin oleh Mayor Abu Djamal
sendiri. Dalam rangka pelaksanaan perintah2 tersebut disusun rencana sebagai
berikut :
- Kompi Salik
supaya mendekati kota Gresik sambil membantu Batalyon Sunaryadi dan kalau
mungkin melalui Gresik menuju ke bangkalan (masuk pulau Madura).
- Kompi I Hamid
bergerak dan ngimbang melewati Lamongan mengikuti dan memperkuat pasukan Kompi
Salik dengan tugas yang sama.
- Kompi Karim
ditambah dengan satu peleton gabungan menggabungkan diri dengan brigade Jember
yang melewati Batu masuk ke Kresidenan Malang menuju ke Kresidenan Besuki.
- Komandan
Batalyon 635 disamping oleh Mohammad Noer sebagai ketua Pemerintahan bayangan
dan Amien Ja'far sebagai pemimpin
kelasykaran beserta staf siap bergerak maju melaluli Pare, Mojowarno,
Mojoaging, Mojokerto dengan maksud masuk ke Surabaya dengn tujuan ahir Madura.
Sesuai
dengan bunyi perintah masing2 kesatuan yang berkepentingan bergerak ke arah sasaran
(Madura) berita dari Malang diterima bahwa Kompi Jokotole yang menuju ke arah
Situbondo terlibat pertempuran dengan Tentara Belanda di derah sebelah Timur
gunung Arjuno dan kocar kacir sehingga banyak yang meninggal.
Staf
Batalyon 635 yang dipimpin oleh Mayor Abu Djamal sendiri sudah sampai di
Mojosari dan Mojowarno. Diterima kabar bahwa Amien Ja'far tewas didaerah
Jombang pada waktu ia berusaha bergabung dengan Batalyon 635 di Mojosari.
Dari
Mojosari Mayor Abu Djamal dengan staf berpisah dengan Mohammad Noer dan Staf
untuk menghindari serbuan Belanda, karena jika berkelompok dengan jumlah yang
besar akan lebih berbahaya.
Dari Mojosari Mayor Abu Djamal dengan staf berpisah dengan Mohammad Noer dan Staf untuk menghindari serbuan Belanda, karena jika berkelompok dengan jumlah yang besar akan lebih berbahaya.
Mayor Abu Djamal dan staf bergerak maju kekota Mojokerto dan diluar Kota Mojokerto bergabung dengan Kompi Kalal Hitam dari Pesantren Tebu Ireng Jombang, diwaktu istirahat disuatu rumah Lurah disebelah Timur Mojokerto, kelompok Abu Djamal yang terdiri dari Lima Perwira termasuk Kapten Abdullah dan Letnan Satu Abdul Kadir dikepung oleh Tentara Belanda dengan muntahan tembakan yang gencar sambil membakar rumah Lurah yamg ditempati, disini Mayor Abu Djamal dan kawan- kawan ditangkap oleh Belanda dan dibawa ke kota Mojokerto, terus dibawa ke Surabaya dan dimasukan ke penjara Kali Sosok dengan catatan bahwa Mayor Abu Djamal terluka kena tembak disebelah punggung bawah belakang.
Dengan tertangkapnya pimpinan Batalyon Jokotole dan kawan- kawan putuslah hubungan dengan dunia luar, maka agar gerak operasi di Madura bisa di lanjutkan, pimpinan diperolah Kapten Angkatan Darat, R. Abdul hamid.
Views: 310
|
- Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
- Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
- Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
| |