|
Setelah perjuangan bersenjata secara
terbuka dihentikan maka perjuangan beralih kepada Gerakan Bawah Tanah yang
dilaksanakan oleh :
- Bekas barisan
Sabilillah yang menemakan dirinya PAUM seingkatan dari, Persatuan Alim Ulama
Madura, dibawah pimpinan K.H Abdul Hamid dan K.H Mohammad Toha.
- Bekas barisan
Hisbullah dengan nama GRATHIS, yaitu singkatan dari Gerakan Rahasia Tentara
Hisbullah dibawah pimpinan R.H Eksan dan H. Mohammad Syafi'i munir hubungan
organisasi ini terutama difokuskan kepada
:
- Mohon bantuan
kepada advokat Republikein Mr. Tohar untuk membela tujuh orang Sabilillah yang
dihukum mati oleh Pengadilan Negeri Pamekasan, sehingga berubah menjadi hukuman
seumur hidup.
- Demonstrsi
besar-besaran menuju ke Istana Madura menuntut bubarnya Negara Madura.
- GRIM yaitu
Gerakan Rakyat Indonesia Madura dibawah pimpinan K.H Sya'rani, Sunarto Santoso,
Sersan Mayor Sya'ir dan kawan-kawan.
- Barisan Maleng
dibawah pimpinan pak Jumalia dan kawan-kawan.
Didaerah selatan
Pulau Madura ada pula Gerakan Bawah Tanah yang diberi nama GATET (Gabungan
Negara Terpendam) yang dipimpin oleh Bambang Yuwono yang anggota besarnya
terdiri dari bekas Lasykar Pesindo namun banyak pula yang menggabungkan diri
kepada Gerakan Bawah Tanah yang dipimpin oleh Letnan Dua Sukirman Perwira
Combat Resimen 35 Jokotole yang berpusat di Surabaya, terutama di daerah
Kwanyar dan Sukolilo di Kabupaten Bangkalan.
Gerakan ini tetap
mengadakan hubungan dengan pejuang-pejuang yang sudah Hijrah ke Jawa dan
mempunyai tugas penghubung pejuang antara lain Letnan Sukirman dan Letnan Ali
Wasa.
Kegiatan organisasi
ini dilakukan menurut cara dan inisiatif masing-masing kegiatan meliputi
antaralain mengadakan pengacauan terhadap jalannya Pemerintahan Belanda di
sana-sini mengadakan gerakan pemasangan plakat- plakat di toko-toko di pasar-pasar
di jembatan-jembatan ditempeli plakat untuk mengacaukan Pemerintah Belanda,
menimbulkan kegelisahan di kalangan rakyat.
Jalan Abdul Aziz
dan Parteker selalu diawasi oleh tentara Belanda karena Gerakan Bawah Tanah
oleh pejuang banyak dilakukab di daerah itu, daerah tersebut dijadikan tempat
bertemu baik siang maupun malam dengan berpura
pura sebagai tukang cukur, tukang jahit tukang sepeda dan bermain
karambol dan kartu (domino, likuran, ceki dsb.)
Gerakan pembinaan
persatuan dan kesatuan pejuang-pejuang dilakukan pada malam hari maka oleh
sebab itu patroli/ronda malam pasukan Belanda dilaksanakan secara intensif.
Pada siang hari pejuang berusaha keras untuk mempertahankan hidupnya tanpa
harus bekerja dengan Pemerintah Belanda sekedar untuk menyambung hidupnya.
Yang nasibnya
malang tertangkap Belanda, namun mereka tetap bungkam seribu bahasa sekalipun
disiksa dan dipaksa untuk menyebutkan nama-nama kawan-kawannya. Dari sekian
banyak yang ditangkap oleh Belanda yang dapat kami catat nama-namanya antara
lain :
- Said DK
- Kayi Syafi'i
- Letnan Noor
- Abdur Rachman
(pensiunan Kakanwil Sosial)
- Mohammad
Sufra (Pensiunan PJKA Pamekasan)
- A. Said
(pensiunan Kakandep P dan K Pelenga'an)
- Seorang
letnan FP (Field Preparation), Awat Prawiro (pensiunan kepala SD)
Diantara yang
ditangkap itu adapula yang dihukum mati oleh Belanda sebanyak 10 orang Hisbullah
yaitu :
- Pak Zuhri
Manari (dari Ds Plakpak)
- Muttahir
Karim (dari Ds Plakpak)
- Pak Dafia
(dari Ds Plakpak)
- Pak Marsia
Sumarwi (dari Ds. Pamaroh)
- Pak Muda'i
(dari Ds. Plakpak) Pak Ibrohim (dari Ds. Pamaroh)
- Pak
Hamimah/Abd Jalil (dari Ds. Plakpak) K. Dipa (dari Ds batu Bintang)
- K. Maona
(dari Ds. Batu bintang) dan Jamali juga dari desa Batu bintang.
Mereka tersebut
oleh pengadilan penjajah Belanda dinyatakan sebagai penjahat.
Sebagai pemrakarsa Sersan Mayor Sukirman
dan Sersan Mayor Abd. Kadir dan kawan-kawan memimpin Gerakan Bawah Tanah yang
terdiri dari karyawan-karyawan instansi Pemerintah yang tidak tergabung dari
Gerakan Bawah Tanah Badan-Badan Perjuangan atau kelasykaran.
Mereka menggabungkan diri pada Sersan Mayor
Sukirman seperti dikantor Pemasyrakatan Agama, Kereta Api Guru-guru dan Lain-lainnya.
Gerakan bawah tanah ini baru dibentuk pada Bulan Pebruari 1948 atas perintah
Mator Abu Djamal.
Perlu sekedar sebagai catatan bahwa
Organisasi Bawah Tanah ini atas dasar hukum legalisasinya ialah Mayor Abu
Djamal memerintahkan melaliu Combat inteligence mengutus kuriri ke Madura
menyampaikan perintah kepada kapten hafiluddin (PTRI) di Pamekasan Mayor
Mohammad Saleh di Bangkalan, Mayor R.A Mangkudiningrat di Sumenep yang isinya
tertulis / lisan :
"Susunlah
Ondergrondse aksi (aksi Bawah Tanah) berdasarkan situasi di Madura dengan
sistem kelompok tiga-tiga tidak saling mengenal (sistem verzet kern) agar
membuat situasi pendudukan Belanda tidak aman di Madura, disamping itu
diperintahkan pula agar dapat melarikan Letnan satu Sumanto dari Field
Preparation (F.P) ke SUAD I Yokyakarta dan Letnan Satu Abd. Karim kepedalaman
RI dengan selamat.
Giatkan PUS (Perang Urat Syaraf / Psy War)
Gagalkan plebisit pembentukan Negara Madura”.
Views: 410
|
- Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
- Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
- Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
| |