.

Daftar Pada Forum

Silahkan Login untuk masuk pada forum kami:





Lupa Kata Sandi?
Bukan Anggota, Silahkan? Daftar

Menu Utama

Kolom Prestasi



( Klik Gambar )

Dukung Kami

Kami menerima donasi bagi para donatur yang perduli, melalui paypal dengan jumlah minimum $2 
Nama-nama para donatur akan kami kami masukkan pada halaman khusus donasi. Terima kasih

Pesan Anda

Jumlah Pengunjung

Hari Ini171
Kemarin236
Minggu ini807
Bulan ini1455
Semua45389

(C) Bangkalan-Memory

Support

Polls

Apakah anda mendukung website bangkalan memory ini:
 
Pemerintah Memblokir Situs Porno Pendapat anda ?
 

Jadwal Sholat

Bookmark Kami !

Berlangganan Artikel

Masukkan Alamat email anda:

Delivered by FeedBurner

Powered by FeedBurner

Komunitas

Top Indo

 


MusicPlaylist

 

Website Stats


Links to Site

Home arrow Artikel arrow TERTAWANNYA LETNAN KOLONEL CHANDRA HASSAN
Selamat Datang di Bangkalan Memory, Website ini merupakan dedikasi kami dalam melestarikan peninggalan Budaya serta Sejarah Kota Bangkalan.
TERTAWANNYA LETNAN KOLONEL CHANDRA HASSAN Cetak halaman ini
Oleh : Bangkalan Memory   
Jumat, 04 Januari 2008

Karena keadaan sudak kritis selaku Komandan Resimen 35, Letnan Kolonel Chandra Hassan mengundang Dewan Pertahanan Daerah (DPD) bersidang di manding.

Dalam rapat tersebut ia mengemukakan bahwa Resimen tidak dapat lagi mempertahankan daerah Madura lebih dari satu bulan, karena kita sudah kehabisan Amunisi. Tetapi perlawanan rakyat harus tetap dijalankan supaya Madura tetap dijadikan "Neraka" bagi Belanda.
 
Tentara dan pejuang-pejuang lainnya supaya tetap berjuan bersama rakyat, pada waktu itu semua pejabat Negara dibawah pimpinan Cakraningrat bersumpah tetap setia kepada pemerintah dan Negara Republik Indonesia. Setelah Komandan Resimen mempelajari situasi lebih lanjut dan melihat pemusatan Batalyon-Batalyon Belanda di Pamekasan untuk bergerak didaerah Timur dan Utara maka tepat pada tanggal 14 Nopember 1947 ia memberi order terahir yang berbubunyi sebagai berikut :
  1. Seluruh Slagorde yang masih bersenjata diperintahkan mundur ke Jawa dengan tempat berkumpul di Kediri caranya dengan mempergunakan kesempatan masing - masing.
  2. Yang tidak bersenjata bergabung dengan rakyat, tetap di tempat menjalankan gerakan bawah tanah, menstimulir pemberontakan terhadap pasukan dan orang-orang Belanda tetap dijalin hubungan dengan pedalaman (Jawa).
  3. Bagi tentara TNI tidak dibenarkan bekerja kepada Tentara Belanda bagaimanapun besar resikonya, hanya nggota inteligence yang boleh menyusup ke kesatuan2 Belanda, kami akan kembali dengan pasukan-pasukan kami ke Madura untuk menhhancurkan kolonialisme Belanda.
Setelah perintah terahir dikeluarkan maka rakyat memecah diri dan membuat rencana sendiri-sendiri.
 
Pada umumnya mereka mencari perahu besar kecil untuk menyebarang ke Basuki atau lewat Tuban menuju ke Kediri, jadi hijrah Jawa memang strategi dan taktik Resimen Jokotole oleh karena itu rencana hijrah ini sudah dilaporkan kepada divisi, maka anggora Jokotole yang tiba oleh Divisi ditampung di kesatuan khusus.
 
Mayor Mangkuadiningrat dan Kapten Mohammad Saleh tinggal di Madura demikian Kapten (CPM) Hafiluddin dan Kapten Mudhar Amin, setelah Chandra Hasan mengadakan pertemuan dengan Residen, Bupati-Bupati dan beberapa pengawal sipil berangkat ke Ganding (Guluk-guluk) untuk mengambil isterinya ditempat pengungsian dan kemudian berjalan menuju Pasongsongan. Disana ia bertemu dengan Sidik pemimpin dari daerah itu yang tergolong kaya.
 
Chandra Hassan menanyakan perahunya untuk dipakai ke Tuban dan ia diberi perahu tersebut dengan anak buahnya. 
 
Pada tanggal 11 Nopember Chandra Hassan meninggalkan Pasongsongan menuju Tuban tetapi setelah sampai di lautan terbuka dikejauhan terlihat sebuah kapal, para anak buah perahu sama-sama gelisah ketakitan dan kemudian mereka menolak untuk melanjutkan perjalanan, Chandra Hassan tidak memaksa untuk terus akan tetapi ia minta kepada juru mudi perahu agar sekembali ke Pasongsongan tetap merahasiakan perjalanannya.
 
Setibanya di Pasongsongan Komandan Resimen Jokotole ini terus menelusuri pantai dan naik ke Bukut Bindang yang terletak diantara Pasongsongan dan Sotabar, setelah bberapa jam ia beristirahat dirumah janda tua itu diatas bukit sekitar jam 12.00 terdengar beberapa kali tembakan dan teriakan-teriakan adanya serdadu Belanda dua orang melompat dari semak-semak dan berkata "Pak Chandra, Sidik digiring Belanda dan pasukan Cakra menuju kemari. Lekas saja menyingkir !!" Chandra Hassan lekas menarik isterinya sambil berpesan kepada si janda dan orang-orang lainnya yang berada ditempat itu jika ditanya Belanda dimana ia berada supaya dijawab tidak tahu, kemudian ia melompat kekandang sapi bersama isterinya bertiarap ditempat makanan sapi dibawah timbunan rumput-rumput tak lama kemudian datanglah Sidik bersama tentara Belanda dan Cakra menanyakan Chandra Hassan lalu janda tua itu menjawab bahwa ia tidak tahu ia hanya melihat sore harinya rombongan orang-orang menuju ke Barat mungkin ke Waru mereka berpendapat bahwa Sidik berbohong dan janda tua itu di tembak mati. Setelah Belanda dan Cakra pergi Chandra Hassan yang hanya bersenjatakan pistol saja keluar dari persembunyiannya yang diikuti anak buahnya, ialah Sersan Gani seorang keturunan Cina Swie King dan seorang pembantu.
 
Mereka menuju Prenduan dengan penuh kesadaran bahaya-bahaya apa yang mereka hadapi. Di Prenduan Chandra Hasan mengirim surat kepada camat R.P Moh. Nur minta diusahakan perahu untuk menyeberang ke Paiton, Mukammad Nur segera menjawab bahwa perahu sudah siap tersedia dan siap untuk diberangkatkan. Dengan demikian Chandra Hassan berangkat ke Prenduan dengan sebuah Jukong perahu kecil penangkap ikan bernama "segigir" menuju Paiton.
 
Sekarang perahu "segigir" disimpan dimusium Brawijaya Malang, dua hari dua malam mereka terapung apung di Selat Madura dengan dibayangi oleh pesawat terbang Belanda yang rupa-rupanya mencari jejak tokoh-tokoh Madura yang sedang meninggalkan pulaunya menuju ke Jawa. Pada tanggal 25 Nopember 1947 sekitar jam 19.00 sore mereka tiba di pelabuhan ikan Karanganyar dekat Paiton selama 3 hari Chandra Hassan mengadakan orientasi daerah dan ia bertindak sangat hati-hati hanya mau berhubungan dengan ornag yang dikenal sebagai pemimpin masyarakat.
 
Di karanganyar mereka tinggal 3 orang dan ia terus menuju ke Lumajang setelah dua hari perjalanan pada tanggal 1 Desember 1947 mereka sampai di Gading sebuag Kota diatas Probolinggo disana Chandra Hassan berjumpa dengan Mayor Majid beserta perwira2 dan dan prajurit-prajurit lainnya yang mendahului sampai ditempat itu. Ditengah-tengah tanaman tebu mereka merencanakan gerakan  :
  • Menghindari kontak senjata
  • Gerakan secara menyebar ( dua orang )
  • Tujuan markas Divisi Kediri
  • Setibanya di Kediri melapor kepada panglima Divisi dan menghimpun kembali anggota Jokotole.
Chandra Hassan diterima oleh penghulu Gading untuk tinggal dirumahnya ia mendengar bahwa Wedana Gading adalah Bustamin, seorang Mosvian dari Sampang menurut penghulu tersebut ia seorang Republikein yang konsekuen.
 
Oleh karena itu Chandra Hassan ingin bertemu Bustamin untuk meminta bantuan kendaraan guna dipakai ke Lumajang. Pada waktu itu ia melihat pemuda-pemuda di Pendapa Kawedanan, Bustamin kelihatan menelpon meminta bantuan Jeep untuk dipakai ke Lumajang  namun Chandra Hassan mempunyai firasat yang kurang baik terhadap kerumunan orang-orang yang ada di kantor itu. Firasat kurang baik benar karena setelah pemimpin Resimen Jokotole itu selesai Sholat Shubuh tiba-tiba disekitar rumah yang ditempati ada suara orang dan banyak orang-orang berlari lari dan dua orang tentara KNIL (orang Ambon) menerjang pintu kamar dan sambil mengacungkan karabenya berteriak "angkat tangan keluar! " Chandra Hassan yang sedang memakai kopyah haji yang diberi pinjam penghulu terus angkat tangan dan keluar kamar. Diluar ada kurang lebih 1 peleton menjaga orang-orang yang sedang ditawan dan sewaktu tawanan-tawanan itu yang berjumlah lebih 60 orang disuruh naik truk, lalu ada teriakan dari belakang  "itulah pak Chandra Komandan Resimen" ternyata yang berbicara itu adalah bekas Sersannya yang bernama Mukbar yang dengan angkuhnya menodongkan senjata kebekas Komandan Resimennya. Segera timbullah perkelahian tetapi seorang Kapten Belanda melerainya, dengan terus terang Komandan Resimen Jokotole ini mengakui bahwa ia adalah Overste Chandra Hassan.
 
Kapten Belanda itu bersikap tegap menghormat kepada seorang Letnan Kolonel yang menjadi tawanannya, karena Chandra Hassan menolak untuk di interogasi dilapangan oleh seorang Letnan Muskita (orang Ambon) maka ia lalu dibawa ke Surabaya ditangani oleh Kolonel Rietfeld.
 
Selama tiga hari ia terus menerus di interogasi di staf A Divisi Belanda, Chandra Hassan pendiriannya tetap bahwa tindakannya logis dan ia tidak akan menyerah bagaimanapun juga, tawanan tawanan dari Jendral Baay dan Kolonel Riedfeld kemudian Van der Plas, Komisaris Polisi Sneep yang membujuknya untuk mau menjadi Kolonel Cakra, Komisaris Polisi atau menjadi Bupati dengan mentah-mentah ditolak oleh Chandra Hassan dan ia mengatakan bahwa ia sudah bersumpah setia dan saksi tuhan bahwa ia akan setia pada Republik Indonesia.
 
Sikap keras yang ditunjukan oleh Chandra Hassan menyebabkan ia dibawa ke penjara Sidoarjo dengan diborgol dari penjara Sidoarjo kemudin ia dipindah ke Hoofd Bureau polisi dekat Jembatan Merah Surabaya, selanjutnya Chandra Hassan dipindah lagi ke sel khusus dan dikumpulkan dengan dua orang gila selama 3 bulan.
 
Pada bulan Pebruari 1948 setelah terjadinya affair Madiun ia diambil dan diperiksa oleh dua orang Auditor Militer Belanda Van der Hoogte, tokoh Auditor ini juga menawarkan bantuannya kepada Chandra Hassan kalau ia mau masuk kedalam pemerintahan negara Madura, sebagai Bupati, dan Komandan Cakra tetapi tawaran-tawaran tersebut dengan tegas ditolaknya.
 
Dalam sel khusus diantara 2 orang gila Chandra Hassan masih sempat menulis surat laporan kepada Bung Karno, Panglima Sudirman, dan Panglima Divisi Sungkono. Pada bulan Maret 1948 jam 03.00 diambil daris sel khusus dan dibawa ketempat interogasi dijalan HBS dan ditanyakan tentang surat-surat yang dikirim ke Yokyakarta, karena dalam pemeriksaan ini Chandra Hassan tetap mempertahankan pendirian maka ia dibawa kembali ke penjara kalisosok dan langsung dimasukkan kekamar gelap didalam kamar gelap inilah ia mendekam kurang lebih satu setengah tahun.
 


 
< Sebelumnya   Selanjutnya >