.

Daftar Pada Forum

Silahkan Login untuk masuk pada forum kami:





Lupa Kata Sandi?
Bukan Anggota, Silahkan? Daftar

Menu Utama

Kolom Prestasi



( Klik Gambar )

Dukung Kami

Kami menerima donasi bagi para donatur yang perduli, melalui paypal dengan jumlah minimum $2 
Nama-nama para donatur akan kami kami masukkan pada halaman khusus donasi. Terima kasih

Pesan Anda

Jumlah Pengunjung

Hari Ini167
Kemarin236
Minggu ini803
Bulan ini1451
Semua45385

(C) Bangkalan-Memory

Support

Polls

Apakah anda mendukung website bangkalan memory ini:
 
Pemerintah Memblokir Situs Porno Pendapat anda ?
 

Jadwal Sholat

Bookmark Kami !

Berlangganan Artikel

Masukkan Alamat email anda:

Delivered by FeedBurner

Powered by FeedBurner

Komunitas

Top Indo

 


MusicPlaylist

 

Website Stats


Links to Site

Home arrow Artikel arrow HIJRAH MADURA TIMUR KE DAERAH PROBOLINGGO
Selamat Datang di Bangkalan Memory, Website ini merupakan dedikasi kami dalam melestarikan peninggalan Budaya serta Sejarah Kota Bangkalan.
HIJRAH MADURA TIMUR KE DAERAH PROBOLINGGO Cetak halaman ini
Oleh : Bangkalan Memory   
Jumat, 04 Januari 2008

Setelah satu peleton tentara Belanda menyusup ke lembah pesantren pada tanggal 10 Agustus 1947, di Sektor I Madura Timur Komandan Batalyon segera mengadakan pertemuan dengan komandan Kompi dan mengadakan evaluasi keadaan dengan kesimpulan bahwa persediaan amunisi dan makanan tipis.
PELAKSAAN HIJRAH DARI MADURA TIMUR KE DAERAH PROBOLINGGO.

Pelaksaan Hijrah dari Front Madura Timur, pemberangkatannya dibagi dalam beberapa kelompok yakni sebagai berikut

KELOMPOK KOMPI SLAMET KAMALUDDIN / GUNO :

Kompi Slamet Kamaluddin / Guno satu satunya kesatuanbersenjata yang hijrah dari Prenduan ke daerah Probolinggo/Paiton yang berpamitan kepada Komandan COPP di Kapedi.

KELOMPOK MAYOR RASYID.

Dengan tekad asal dapat meninggalkan Pulau Madura secepat mungkin supaya tidak tertangkap oleh Tentara Belanda Mayor Rasyid dengan stafnya antara lain Letnan Zainuddin dan Letnan Majid (saat ini bermukim di Jakarta) berangkat ke Ambunten dan ternyata terbawa angin sampai ke Pulau Sapudi (Poday) yang pada waktu itu Camatnya adalah Saleh Wirakrama bekas PETA dan petugas Militernya adalah Letnan Dua Abuyamin.

Dari pulau Sapudi bersama dengan Letnan Dua Abuyamin berangkat ke Jawa dan mendarat ke Sukaraja (Asembagus) dari pelabuhan Mayor Rasyid dan Letnan Dua Abuyamin berangkat menuju Pesantren K.H. Syamsul Arifin ayah dari Kyai As'ad yang masih ada hubungan famili dengan mereka.

Disana mereka berjumpa dengan R. Muhammad Kafirawi dan M. Abdul Alim pengatur siasat pesantren terhadap Belanda. Perlu diketahui bahwa Belanda/Vander Plas mengatakan bahwa derah pesantren Sukorajja sebagai Heillige Zone (daerah suci) yang merupakan daerah terlarang bagi Tentara Belanda maka tempat tersebut menjadi sarang pelarian gerilyawan pasukan kita.

Selanjutnya Mayor Rasyid dan R. Muhammad Kafrawi diutus oleh K.H Syamsul Arifin untuk menghadiri konfrensi alinm ulama yang di prakarsai pleh Recomba di Surabaya. Mereka menyamar berpakaian haji dan dari sana langsung ke Kediri untuk melapor ke panglima divisi Kolonel Sungkono, sedang R. Muhammad Kafrawi langsung ke Yokyakarta untuk melapor kepada Menteri Dalam negeri Cq. Presiden Indonesia.

KELOMPOK MAYOR SULAIMAN.

Dengan tekad seperti Mayor Rasyid ia berserta rombongan yang terdiri atas Kapten Sahur, Letnan Mustajab, Letnan Mulyatno, Letnan Harun, Letnan Ali, berangkat dari pelabuhan pasean dengan perahu yang membawanya ke pulau Masalembu, yang letaknya disebelah Selatan dekat Kalimantan, namun masuk wilayah Madura karena penduduknya mayoritas peduduk asli Madura sedang kepala Desanya dari penduduk Pasean perlu diketahui bahwa penduduk di pantai pulau Madura menyebutnya (Kalimantan) Jaba Daja ( Jawa Utara ).

Rombongan Mayor Sulaiman berangkat dari pulau Masalembu dengan dua perahu, perahu pertama dinaiki oleh Mayor Sulaiman, Letnan Mulyatno, Letan Harun, Letnan Mustajab dan seorang prajurit. Perahu kedua dinaiki oleh Kapten Sahur dan Letnan Ali .

Perahu yang dinaiki Mayor Sulaiman mendapat kesuitanbantara lain patahnya tiang besar pada suatu malam, oleh karena itu tiba-tiba muncul angin kencang maka mereka kembali ke Pasean untuk membeli beras, air dan lain-lain bekal, untung selamat meskipun Pasean sudah diduduki oleh Belanda. Di Utara Pantai Tanjung Bumi perahu tadi tiba-tiba mendapat tembakan dari pantai.

Keesokan harinya du Utara pantai Sepuluh perahu tersebut mendapat dua kali tembakan dari suatu perahu yang mengejar didepannya dan menghentikannya kemudian Tentara Belanda mengeledahnya dengan ikan teri dan terasi digunakan untuk siasat, Tentara Belanda itu dengan tergesa-gesa mencari sesuatu dengan tergesa2 diatas atap dan berteriak kepada temannya yang berada dibawah "Ze Hebben een pas" (mereka punya pas) andaikata pas tidak ditemukan maka perahu kita akan diseret ke Pantai Sepuluh sebagaimana telah diteriakkan oleh Komandan Tentara Belanda "Zullen we de prauw nar Sepuluh Slepen" (bagaimana kalau perahu ini  diseret ke Sepuluh) senjata-senjata penumpangnya ada dibawah tumpukan-tumpukan terasi dan ikan kering hukuman tembak tidak mustahil keselamatan rombongan karena ada bau busuk diperahu dan adanya pas yang berbunyi bahwa perahu itu kira-kira dua bulan yang lalu mengangkat gula dari Semarang ke Banjarmasin. Pas itu sebenarnya dikeluarkan Tuban dan Pabean sebagai siasat, sebetulnya gula itu dari Tuban ke Madura. Juga pada waktu perahu tadi akan di geledah juragan perahu mengeluarkan bendera Merah Putih Biru.

Dari Sepuluh terpaksa berlabuh di Kota Bangkalan untuk membeli beras, air dan dan kebutuhan lainnya meskipun Bangkalan telah diduduki oleh Tentara Belanda dan suatu patroli barisan pasukan Cakra dengan bersenjata Sten lewat disisi perahu dan rombongan masih selamat. Masih dua kali perahu itu berlayar menuju Tuban tetapi karena karena anginnya berubah haluan pukul 12.00 ke jurusan Timur maka perahu tersebut terpakasa berlabuh di Tanjung Modung sebelah Utara Arosbaya, meskipun Tanjung Modung dijaga tentara Belanda tetapi rombongan tetap selamat.

Oleh karena itu anak buah perahu tersebut putus asa dan tidak mau melanjutkan pelayaran ke jurusabn Tuban terpaksa perahu berlabuh didaerah Sedayu. Di Sedayu rombongan di tangkap oleh ALRI  karena dicurigai sebagai  barisan Cakra setelah diperiksa secara teliti senjata-senjata di rampas.

Dari Sedayu tangkapan dibawa kemarkas ALRI Lamongan dan ahirnya ke markas ALRI Tuban, kebetulan Mayor Sulaiman kebetulan Mayor Sulaiman bertemu dengan seorang perwira Perwakilan Resimen 35 Jokotole di Tuban, dialah yang membebaskan Mayor Sulaiman dan kawan-kawannya, tetapi senjata harus ditinggalkan di markas ALRI. Dari Lamongan mereka menuju ke Jombang dan terus ke Kediri. Setelah mereka melaporkan kepada Komandan Batalyon Jokotole Mayor Abu Jamal selanjutnya melaporkan juga ke Panglima Divisi Narotama, Kolonel Sungkono.


Views: 346

  Be first to comment this article
RSS comments

Beri Komentar
  • Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail
Homepage
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code
I wish being prevented by email of the comments which will follow

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >