Setelah satu peleton tentara Belanda menyusup ke
lembah pesantren pada tanggal 10 Agustus 1947, di Sektor I Madura Timur
Komandan Batalyon segera mengadakan pertemuan dengan komandan Kompi dan
mengadakan evaluasi keadaan dengan kesimpulan bahwa persediaan amunisi dan
makanan tipis.
PELAKSAAN HIJRAH DARI MADURA TIMUR
KE DAERAH PROBOLINGGO.
Pelaksaan
Hijrah dari Front Madura Timur, pemberangkatannya dibagi dalam beberapa
kelompok yakni sebagai berikut
KELOMPOK KOMPI SLAMET KAMALUDDIN /
GUNO :
Kompi
Slamet Kamaluddin / Guno satu satunya kesatuanbersenjata yang hijrah dari
Prenduan ke daerah Probolinggo/Paiton yang berpamitan kepada Komandan COPP di
Kapedi.
KELOMPOK MAYOR RASYID.
Dengan
tekad asal dapat meninggalkan Pulau Madura secepat mungkin supaya tidak
tertangkap oleh Tentara Belanda Mayor Rasyid dengan stafnya antara lain Letnan
Zainuddin dan Letnan Majid (saat ini bermukim di Jakarta) berangkat ke Ambunten
dan ternyata terbawa angin sampai ke Pulau Sapudi (Poday) yang pada waktu itu
Camatnya adalah Saleh Wirakrama bekas PETA dan petugas Militernya adalah Letnan
Dua Abuyamin.
Dari pulau
Sapudi bersama dengan Letnan Dua Abuyamin berangkat ke Jawa dan mendarat ke
Sukaraja (Asembagus) dari pelabuhan Mayor Rasyid dan Letnan Dua Abuyamin
berangkat menuju Pesantren K.H. Syamsul Arifin ayah dari Kyai As'ad yang masih
ada hubungan famili dengan mereka.
Disana
mereka berjumpa dengan R. Muhammad Kafirawi dan M. Abdul Alim pengatur siasat
pesantren terhadap Belanda. Perlu diketahui bahwa Belanda/Vander Plas
mengatakan bahwa derah pesantren Sukorajja sebagai Heillige Zone (daerah suci)
yang merupakan daerah terlarang bagi Tentara Belanda maka tempat tersebut
menjadi sarang pelarian gerilyawan pasukan kita.
Selanjutnya
Mayor Rasyid dan R. Muhammad Kafrawi diutus oleh K.H Syamsul Arifin untuk
menghadiri konfrensi alinm ulama yang di prakarsai pleh Recomba di Surabaya.
Mereka menyamar berpakaian haji dan dari sana langsung ke Kediri untuk melapor
ke panglima divisi Kolonel Sungkono, sedang R. Muhammad Kafrawi langsung ke
Yokyakarta untuk melapor kepada Menteri Dalam negeri Cq. Presiden Indonesia.
KELOMPOK MAYOR SULAIMAN.
Dengan
tekad seperti Mayor Rasyid ia berserta rombongan yang terdiri atas Kapten
Sahur, Letnan Mustajab, Letnan Mulyatno, Letnan Harun, Letnan Ali, berangkat
dari pelabuhan pasean dengan perahu yang membawanya ke pulau Masalembu, yang
letaknya disebelah Selatan dekat Kalimantan, namun masuk wilayah Madura karena
penduduknya mayoritas peduduk asli Madura sedang kepala Desanya dari penduduk
Pasean perlu diketahui bahwa penduduk di pantai pulau Madura menyebutnya
(Kalimantan) Jaba Daja ( Jawa Utara ).
Rombongan
Mayor Sulaiman berangkat dari pulau Masalembu dengan dua perahu, perahu pertama
dinaiki oleh Mayor Sulaiman, Letnan Mulyatno, Letan Harun, Letnan Mustajab dan
seorang prajurit. Perahu kedua dinaiki oleh Kapten Sahur dan Letnan Ali .
Perahu yang
dinaiki Mayor Sulaiman mendapat kesuitanbantara lain patahnya tiang besar pada
suatu malam, oleh karena itu tiba-tiba muncul angin kencang maka mereka kembali
ke Pasean untuk membeli beras, air dan lain-lain bekal, untung selamat meskipun
Pasean sudah diduduki oleh Belanda. Di Utara Pantai Tanjung Bumi perahu tadi
tiba-tiba mendapat tembakan dari pantai.
Keesokan
harinya du Utara pantai Sepuluh perahu tersebut mendapat dua kali tembakan dari
suatu perahu yang mengejar didepannya dan menghentikannya kemudian Tentara
Belanda mengeledahnya dengan ikan teri dan terasi digunakan untuk siasat, Tentara
Belanda itu dengan tergesa-gesa mencari sesuatu dengan tergesa2 diatas atap dan
berteriak kepada temannya yang berada dibawah "Ze Hebben een pas" (mereka punya
pas) andaikata pas tidak ditemukan maka perahu kita akan diseret ke Pantai
Sepuluh sebagaimana telah diteriakkan oleh Komandan Tentara Belanda "Zullen we
de prauw nar Sepuluh Slepen" (bagaimana kalau perahu ini diseret ke Sepuluh) senjata-senjata penumpangnya
ada dibawah tumpukan-tumpukan terasi dan ikan kering hukuman tembak tidak
mustahil keselamatan rombongan karena ada bau busuk diperahu dan adanya pas
yang berbunyi bahwa perahu itu kira-kira dua bulan yang lalu mengangkat gula
dari Semarang ke Banjarmasin. Pas itu sebenarnya dikeluarkan Tuban dan Pabean
sebagai siasat, sebetulnya gula itu dari Tuban ke Madura. Juga pada waktu
perahu tadi akan di geledah juragan perahu mengeluarkan bendera Merah Putih
Biru.
Dari
Sepuluh terpaksa berlabuh di Kota Bangkalan untuk membeli beras, air dan dan
kebutuhan lainnya meskipun Bangkalan telah diduduki oleh Tentara Belanda dan
suatu patroli barisan pasukan Cakra dengan bersenjata Sten lewat disisi perahu
dan rombongan masih selamat. Masih dua kali perahu itu berlayar menuju Tuban
tetapi karena karena anginnya berubah haluan pukul 12.00 ke jurusan Timur maka
perahu tersebut terpakasa berlabuh di Tanjung Modung sebelah Utara Arosbaya,
meskipun Tanjung Modung dijaga tentara Belanda tetapi rombongan tetap selamat.
Oleh karena
itu anak buah perahu tersebut putus asa dan tidak mau melanjutkan pelayaran ke
jurusabn Tuban terpaksa perahu berlabuh didaerah Sedayu. Di Sedayu rombongan di
tangkap oleh ALRI karena dicurigai
sebagai barisan Cakra setelah diperiksa
secara teliti senjata-senjata di rampas.
Dari Sedayu tangkapan dibawa kemarkas ALRI
Lamongan dan ahirnya ke markas ALRI Tuban, kebetulan Mayor Sulaiman kebetulan Mayor
Sulaiman bertemu dengan seorang perwira Perwakilan Resimen 35 Jokotole di
Tuban, dialah yang membebaskan Mayor Sulaiman dan kawan-kawannya, tetapi
senjata harus ditinggalkan di markas ALRI. Dari Lamongan mereka menuju ke
Jombang dan terus ke Kediri. Setelah mereka melaporkan kepada Komandan Batalyon
Jokotole Mayor Abu Jamal selanjutnya melaporkan juga ke Panglima Divisi
Narotama, Kolonel Sungkono.
Views: 347
|
- Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
- Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
- Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
| |