|
Setelah satu peleton tentara Belanda menyusup ke
lembah pesantren pada tanggal 10 Agustus 1947, di Sektor I Madura Barat
Komandan Batalyon segera mengadakan pertemuan dengan komandan Kompi dan
mengadakan evaluasi keadaan dengan kesimpulan bahwa persediaan amunisi dan
makanan tipis.
HIJRAH
DARI FRONT MADURA BARAT KE TUBAN.
Persediaan mesiu hanya cukup untuk 30 menit
tempur, rakyat mulai apatis kepada tentara kita dengan segan membantunya. Hal
mana salah satu akibat dari kedatangan Van der Plas yang mempengaruhi Kyai
Jambu dengan membawa oleh -oleh Alqur'an dan sajadah.
Diputuskan bahwa anggota tentara Batalyion
I Resimen 35 agar tidak tertangkap Belanda dan senjata - senjata jangan sampai
jatuh ketangan musuh, maka pasukan harus meninggalkan daerah pertempuran di
Bangkalan dan evakuasi ke Jawa, serta melanjutkan perjuangan disana .
Berita tentang hijrah Batalyion Hanafi ke
Tuban diterima oleh Komandan COPP 35 dan Mayor Abu Jamal dan Mayor
mangkudiningrat di markas Komano pertahanan Sektor III yang pada waktu itu
berkedudukan di Klampar, hijrah memang menjadi strategi dan taktik Resimen 35.
PELAKSANAAN
EVAKUASI.
Selama 2 Minggu Batalyion I Resimen 35
tidak menampakkan dirinya di medan pertempuran dan disebarkan berita palsu
bahwa pasukan mundur ke jurusan Timur. Pada waktu yang bersamaan beberapa anggota
Kompi Hamid asal Arosbaya menghubungi juragan - juragan perahu di Klampis untuk
menyiapkan perahu2 untuk mengadakn serbuan ke Arosbaya dan Bangkalan. Perwira -
Perwira yang pegang peranan dalam hal ini adalah Letnan Mestu, Letnan Sabirin
dan Kapten Salik.
Pada tanggal 11 September 1947 seluruh
pasukan berkumpul di daerah assembly Area (Embarkacy Area) letaknya 5 Km
sebelah selatn pelabuhan Klampis (tersebar beberapa kelompok, tidak
dipusatkan). Menjelang waktu mangrib kurang lebih pukul 18.00 anggota - anggota
Batalyon I Resimen 35 mulai masuk ke perahu yang masing-masing telah ditentukan
oleh Komandan Peleton yang bersangkutan. Persiapan embarkasi pasukan ini serupa
denga tentara Inggris dan Prancis yang
evakuasi dari Dunkrik ke Inggris, jika terlambat sedikit, maka tentara kita
akan terkejar musuh dan pasti kita akan hancur lebur.
Pada pukul 19.00 seluruh pasukan dan
senjata mereka masing-masing sudah siap tinggal menunggu suara pistol. Perlu
diketahui bahwa ada sebagian pasukan yang membawa keluarganya. Kapten Salik
Munir didampingi oleh Letnan Sabirin selaku Komandan Konvoi pada pukul 19.30
membunyikan satu kali tembakan pistol berarti konvoi mulia bergerak ke Barat
dengan layar penuh.
Pada tanggal 12 September 1947 pukul 07.00
konvoi dengan selamat melalui ujung Pangkah. Pada saat itu semua anggota
pasukan harus berada di bawah atap perahu, dan baru muncul diatas perahu
setelah jauh dari daerah patroli kapal patroli marine Belanda dan angin kencang
bertiup dari buritan ke arah Tuban. Atas lindungan Allah SWT, berkat doa Kyai
Haji Marzuki dan Ulama yang lain peserta hijrah sehingga tidak terkejar oleh
patroli kapal Belanda.
Sesampainya didaerah Tuban Kapten Munadi
(Komandan dan KMK Tuban) pada malam hari memerintahkan agar pasukan kita
menyerahkan senjata, hal mana dijawab oleh Komandan Batalyon bahwa pasukan ini
bukan Batalyon Cakra tetapi Batalyon I
Resimen 35 yang akan bergerak keKediri kemarkas Brawijaya .
Pasukan kita ditempat yang baru sementara
ditempatkan didekat pelabuhan Tuban berkat petunjuk Komandan Pertahanan
setempat dan selanjutnya ditempatkan di kompleks bekas pabrik gula jati di
Nganjuk sedang kesatuan ALRI Madura yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Halik dan
anggota Pesindo dipimpin oleh Rachman ditempat di Babat, kesatuan dibawah
pimpinan Letnan Kolonel Abd. Halik karena pada waktu itu KKO masih belum ada,
dibubarkan dan kemudian menjadi Batalyon STC Bojonegoro.
Pada waktu Batalyon I Hanafi berada di
penempungan Tuban, telah ikut dua orang Madura berjasa yakni Abdussalam dari
Ambunten dan Marsudin dari Tamberru yang menjadi tuan rumah dan menyediakan
makanan bagi Batalyon I Hanafi.
Untuk
mengenang hijrah Batalyon I Hanafi di Klampis telah dibuat Monumen berbentuk
sebuah Musholla dilokasi pemberangkatan
pasukan yang terletak di tepi pantai Klampis dan perahu dengan 5 buah layar
lambang Pancasila dijalan Raya Klampis didepan Kecamatan. Musholla tersebut
dinamakan Al-Hijrah yang diresmikan oleh Rachmat Saleh, SE (mantan Menteri
Perdagangan ).
Views: 334
|
- Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
- Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
- Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
| |