Yang masuk menjadi anggota BKR ialah tenaga bekas dari
Peta, Heiho, seinendan, dan Pemuda-pemuda lainnya yang semangatnya masih
menyala. Sebagai BKR yang setengah resmi bersama-sama dengan alat-alat kekuasaan
lainnya berusaha untuk membina Kemanan dan ketentraman di daerah masing-masing.
Persoalan-persoalan
yang timbul ialah rakyat mulai mendendam terhadap anggota militer Jepang dan
Pejabat-Pejabat sipilnya, karena mengingat perbuatan mereka yang sangat Kejam
selagi mereka berkuasa. Oleh karena itu pemerintah karesidenan memanggil suatu
sikap yang tegas ialah tentara Jepang tidak usah ikut menjaga keamanan karena
telah ditugaskan kepada BKR dibantu kepolisian dan Badan Perjuangan Rakyat
lainnya. Tetapi timbullah insiden-insidern kecil karena tentara Jepang tidak
mau memahami. Amarah rakyat mulai memuncak sehingga perlu mengambil ketentuan
mengamankan tentara Jepang di Penjara jangan sampai mereka diserbu oleh rakyat.
Yang paling
kuat pertahanan jepang ialah Batuporon, Kecamatan Kamal, menjadi Pusat
penyimpanan Pertahanannya komandannya seorang kolonel AL Jepang. Pemerintah RI.
di Madura mengirimkan utusan untuk berunding dengan komandan pertahanan Jepang
yang diutus ialah R.A. Sis Tjakraningrat, Irsjad Trunojoyo, Zainal Alim, R.A
Roeslan Tjakraningrat dan R. Moch. Ikhsan.
Perundingan
bertemakan penyerahan tentara Jepang yang ada di Batuporon kepada pemerintah
RI. Perundingan ternyata mengalami jalan buntu sehingga utusan kembali ke
Pamekasan dengan tangan hampa.
Tidak antara
lama di Batuporron terdengar letusan-letusan sema kurang lebih 30 menit.
Setelah didatangi oleh B.K.R ternyata sebagian besar dari senjata Jepang
dibakar habis dan komandannya (Kolonel Angkatan Laut Jepang) terdapat telah
meninggal dunia karena bunuh diri
(Hara-kiri).
Sebagian
tentara Jepang yang masih hidup di Kamal dikumpulkan dan dititipkan di rumah
penjara Bangkalan. Di Pamekasan sendiri, perundingan pihak pemerintah RI denga
tentara Jepang juga mengalami jalan buntu diluar kamar perundingan telah
dipersiapkan anggota-anggota BKR untuk menjaga jangan sampai terjadi hal-hal
yang tidak diinginkan.
Keesokan
harinya dengan pimpinan Amin Jakfar diadakan pelucutan senjata terhadap tentara
dan polisi Jepang. Pelaksanaanya berjalan lancar, tidak samapi timbul
pertumpahan darah. Tentara dan polisi Jepang lalu dititipkan untuk sementara
dirumah penjara Pamekasan.
Dikutip dari :
Buku
Selayang Pandang Sejarah Madura
Oleh :
DR.
Abdurrahman
Views: 491
|
- Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
- Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
- Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
| |