.

Translate

Daftar Pada Forum

Silahkan Login untuk masuk pada forum kami:





Lupa Kata Sandi?
Bukan Anggota, Silahkan? Daftar

Menu Utama

Kolom Prestasi



( Klik Gambar )

Dukung Kami

Kami menerima donasi bagi para donatur yang perduli, melalui paypal dengan jumlah minimum $2 
Nama-nama para donatur akan kami kami masukkan pada halaman khusus donasi. Terima kasih

Pesan Anda

Jumlah Pengunjung

Hari Ini164
Kemarin219
Minggu ini1940
Bulan ini2729
Semua59986

(C) Bangkalan-Memory

Support

Polls

Apakah anda mendukung website bangkalan memory ini:
 
Pemerintah Memblokir Situs Porno Pendapat anda ?
 

Jadwal Sholat

Bookmark Kami !

Berlangganan Artikel

Masukkan Alamat email anda:

Delivered by FeedBurner

Powered by FeedBurner

Komunitas

Top Indo

 


MusicPlaylist

 

Website Stats


Links to Site

Home
MET LEBARAN.png
Selamat Datang di Bangkalan Memory, Website ini merupakan dedikasi kami dalam melestarikan peninggalan Budaya serta Sejarah Kota Bangkalan.
MADURA SEWAKTU PENDUDUKAN JEPANG Cetak halaman ini
Oleh : Bangkalan Memory   
Senin, 10 Desember 2007

Pada tanggal 12 Maret 1942 tentara Jepang sudah menduduki seluruh pulau Madura tanpa perlawanan yang berarti dari pertahanan Hindia Belanda. Dengan dalih bahwa kedatangan bala tentara Dainipon, ialah untuk kemekmuran bersana Asia Timur Raya, maka rakyat menyambut baik kedatangan mereka.

Dalam fase permulaan, kelihatan bahwa Jepang datang dengan maksud baik, ialah menolong bangsa Asia,  tetapi apa mau dikata, selang tidak antara lama mereka menunjukkan sifat-sifat yang tidak baik, ialah kasar dan kejam, sesuai dengan watak fazisme dan militerisme yangmereka tetapkan.
 
Penghidupan rakyat Madura makin lama makin menjadui sullit, kekacauan ekonomi tidak dapat dikendalikan dan rakyat banyak menderita kekurangan makan, penyakit merajalela, sehingga banyak sekali yang matii kelaparan. Dari segi stuktur pemerintahan, pemerintah pendudukan Jepang masih mengambil oper yang telah ada, hanya nama-nama nya mereka ganti.
 
Jabatan residen tetap diadakan dengan sebutan sjutrjokan dan menunjuk juga wakil residen, ialah Raden Ario Adipati Tjakraningrat merangkap sebagai Bupati Bangkalan.nama Bupati diubah dengan nama Kentjo, sedangkan wedana disebut Guntjo dan Camat disebut Suntjo, dibidang sosial  politik dan Kebudayaan,  Tentara pendudukan Jepang mengambil sikap tegas ialh anti Barat. Organisasi sosial Politik yang ada dibubarkan jika tidak sesuai dengan pemerintah.
 
Sebagai gantinya maka dibentuklah organisasi-organisasi diluar pemerintahan, ialah Keibodan, Seinendan, Fazimkai, yamg kesemuanya langsung diawasi dan dipimpin oleh orang-orang Jepang sendiri yang ditunjuk untuk itu. Siapa saja yang menentang perintah pemerintahan Jepang ditindak keras dan kejam tidak melalui proses pengadilan.
 
Salah satu korban dari pembesar Madura ialah Bupati Pamekasan Raden Ario Abdul Azis. Selain dari pada itu mental dan fisik bangsa Indonesia sangat dilemahkan pengiriman Romusa ialah merupakan kerja paksa yang tidak dibayar upahnya sebagaimana mestinya. Mereka banyak kekurangan makan dan mati kelaparan.
 
Pemudi-Pemudi dikumpulkan dengan dalih untuk disekolahkan akan tetapi nyatanya hanya untuk menghibur tentara Jepang untuk dijadikan pelacuran. Pemuda-Pemuda dilatih untuk menjadi kempeiho, ialah pembantu Kempei Jepang. Guna memata matai Bangsanya sendiri.
 
Akan tetapi, disamping efek yang sangat negatif diatas, ada pula efek positifnya ialah dengan pembentukan PETA, HEIHO dan POLISI istimewa, berarti mendidik bangsa Indonesia untuk memiliki pertahanan sendiri, meskipun maksud Jepang semula ialah guna membantu pertahanan negara mereka.
 
Pada bulan September 1942, dari Madura diberangkatkan sebanyak 43 batalion opsir peta dan dilantik di "Bogor Rengseitai". Setelah mereka selesai mengikuti latihan, mereka ditempatkan di dua daidan, ialah Madura dai 1 daidan Madura dai II.
 
Masing-masing daidancunya ialah Raden Amin Ja'far dan Raden Ario Tjakraningrat. Dalam tahun 1944 Madura dibagi dalam 5 daidan yang masing-masing dengan Daidanconya sebagai berikut :
 
1.    Pamekasan dengan Daidanco H. Amin Djakfar
2.    Bangkalan dengan Daidanco R. A. Roeslan Tjakraningrat
3.    Ketapang dengan Daidanco R. Troenodjojo
4.    Ambuntan dengan Daidanco R. Hamid Mudhari
5.    Batang-Batang dengan Daidanco R. Hasjim.
 
Perang dunia II berjalan terus, akan tetapi kekuatan tentara Jepang di Asia mulai mundu kenundurannya mulai nyata ialah setelah bom atom dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki dalam pertengahan Bulan Agustus 1945 Jepang sudah kalah di dalam peperangannya. Peta dibubarkan, Heiho disuruh pulang kekampung halamannya, kekuasaan Jepang seperti perumahan dari karton yang kena hembusan angin topan menjadi hancur berantakan.
 
 
 
Dikutip dari :
Buku Selayang Pandang Sejarah Madura
Oleh :
DR. Abdurrahman


Views: 654

  Be first to comment this article
RSS comments

Beri Komentar
  • Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail
Homepage
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code
I wish being prevented by email of the comments which will follow

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Hak Cipta © 2007,2008 Bangkalan-Memory
email : admin@bangkalan-memory.net