Pada tanggal 12 Maret 1942 tentara Jepang sudah
menduduki seluruh pulau Madura tanpa perlawanan yang berarti dari pertahanan
Hindia Belanda. Dengan dalih bahwa kedatangan bala tentara Dainipon, ialah
untuk kemekmuran bersana Asia Timur Raya, maka rakyat menyambut baik kedatangan
mereka.
Dalam fase
permulaan, kelihatan bahwa Jepang datang dengan maksud baik, ialah menolong
bangsa Asia, tetapi apa mau dikata,
selang tidak antara lama mereka menunjukkan sifat-sifat yang tidak baik, ialah
kasar dan kejam, sesuai dengan watak fazisme dan militerisme yangmereka
tetapkan.
Penghidupan
rakyat Madura makin lama makin menjadui sullit, kekacauan ekonomi tidak dapat
dikendalikan dan rakyat banyak menderita kekurangan makan, penyakit merajalela,
sehingga banyak sekali yang matii kelaparan. Dari segi stuktur pemerintahan,
pemerintah pendudukan Jepang masih mengambil oper yang telah ada, hanya
nama-nama nya mereka ganti.
Jabatan
residen tetap diadakan dengan sebutan sjutrjokan dan menunjuk juga wakil
residen, ialah Raden Ario Adipati Tjakraningrat merangkap sebagai Bupati
Bangkalan.nama Bupati diubah dengan nama Kentjo, sedangkan wedana disebut
Guntjo dan Camat disebut Suntjo, dibidang sosial politik dan Kebudayaan, Tentara pendudukan Jepang mengambil sikap
tegas ialh anti Barat. Organisasi sosial Politik yang ada dibubarkan jika tidak
sesuai dengan pemerintah.
Sebagai
gantinya maka dibentuklah organisasi-organisasi diluar pemerintahan, ialah
Keibodan, Seinendan, Fazimkai, yamg kesemuanya langsung diawasi dan dipimpin
oleh orang-orang Jepang sendiri yang ditunjuk untuk itu. Siapa saja yang
menentang perintah pemerintahan Jepang ditindak keras dan kejam tidak melalui
proses pengadilan.
Salah satu
korban dari pembesar Madura ialah Bupati Pamekasan Raden Ario Abdul Azis.
Selain dari pada itu mental dan fisik bangsa Indonesia sangat dilemahkan
pengiriman Romusa ialah merupakan kerja paksa yang tidak dibayar upahnya
sebagaimana mestinya. Mereka banyak kekurangan makan dan mati kelaparan.
Pemudi-Pemudi
dikumpulkan dengan dalih untuk disekolahkan akan tetapi nyatanya hanya untuk
menghibur tentara Jepang untuk dijadikan pelacuran. Pemuda-Pemuda dilatih untuk
menjadi kempeiho, ialah pembantu Kempei Jepang. Guna memata matai Bangsanya
sendiri.
Akan tetapi,
disamping efek yang sangat negatif diatas, ada pula efek positifnya ialah
dengan pembentukan PETA, HEIHO dan POLISI istimewa, berarti mendidik bangsa
Indonesia untuk memiliki pertahanan sendiri, meskipun maksud Jepang semula
ialah guna membantu pertahanan negara mereka.
Pada bulan
September 1942, dari Madura diberangkatkan sebanyak 43 batalion opsir peta dan
dilantik di "Bogor Rengseitai".
Setelah mereka selesai mengikuti latihan, mereka ditempatkan di dua daidan,
ialah Madura dai 1 daidan Madura dai II.
Masing-masing
daidancunya ialah Raden Amin Ja'far dan Raden Ario Tjakraningrat. Dalam tahun
1944 Madura dibagi dalam 5 daidan yang masing-masing dengan Daidanconya sebagai
berikut :
1. Pamekasan
dengan Daidanco H. Amin Djakfar
2. Bangkalan
dengan Daidanco R. A. Roeslan Tjakraningrat
3. Ketapang
dengan Daidanco R. Troenodjojo
4. Ambuntan
dengan Daidanco R. Hamid Mudhari
5. Batang-Batang
dengan Daidanco R. Hasjim.
Perang dunia II berjalan terus, akan tetapi kekuatan tentara
Jepang di Asia mulai mundu kenundurannya mulai nyata ialah setelah bom atom
dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki dalam pertengahan Bulan Agustus 1945 Jepang
sudah kalah di dalam peperangannya. Peta dibubarkan, Heiho disuruh pulang
kekampung halamannya, kekuasaan Jepang seperti perumahan dari karton yang kena
hembusan angin topan menjadi hancur berantakan.
Dikutip dari :
Buku
Selayang Pandang Sejarah Madura
Oleh :
DR.
Abdurrahman
Views: 654
|
- Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
- Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
- Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
| |