.

Translate

Daftar Pada Forum

Silahkan Login untuk masuk pada forum kami:





Lupa Kata Sandi?
Bukan Anggota, Silahkan? Daftar

Menu Utama

Kolom Prestasi



( Klik Gambar )

Dukung Kami

Kami menerima donasi bagi para donatur yang perduli, melalui paypal dengan jumlah minimum $2 
Nama-nama para donatur akan kami kami masukkan pada halaman khusus donasi. Terima kasih

Pesan Anda

Jumlah Pengunjung

Hari Ini264
Kemarin331
Minggu ini1232
Bulan ini6320
Semua71955

(C) Bangkalan-Memory

Support

Polls

Apakah anda mendukung website bangkalan memory ini:
 
Pemerintah Memblokir Situs Porno Pendapat anda ?
 

Jadwal Sholat

Bookmark Kami !

Berlangganan Artikel

Masukkan Alamat email anda:

Delivered by FeedBurner

Powered by FeedBurner

Komunitas

Top Indo

 


MusicPlaylist

 

Website Stats


Links to Site

Home arrow Artikel arrow MADURA SEBELUM PEMBERONTAKAN TRUNOJOYO
Selamat Datang di Bangkalan Memory, Website ini merupakan dedikasi kami dalam melestarikan peninggalan Budaya serta Sejarah Kota Bangkalan.
MADURA SEBELUM PEMBERONTAKAN TRUNOJOYO Cetak halaman ini
Oleh : Bangkalan Memory   
Kamis, 06 Desember 2007

Sewaktu Sultan Agung memimpin menjalankan politik pemerintahan untuk mempersatukan Jawa dan Madura bahkan ingin mempersatukan seluruh Nusantara agar kompeni sukar dapat melebarkan sayapnya. Karena itu Sultan Agung kadang-kadang terpaksa menjalankan politik kekerasan, dalam tahun 1614 Surabaya ditaklukkan demikian pula dengan Pasuruan dan Tuban.

Akhirnya dalam tahun 1424 Madura mendapat giliran, tentara Madura yang berjumlah 2000 orang menghadap pasujan Mataram yang berjumlah 50.000 orang, perjuangan orang madura menunjukan keberanian, laki2 didepan wanita dibelakang kalau ada laki-laki yang mengundurkan diri dari medan perangtrus ditusuk dari belakang tentara mataram dapat ditewaskan sebanyak 6000 orang, tetapi Sultan Agung tidak putus asa orang2 nya yang gugur dimedan perang segara diganti, ahirnya Madura dapat ditaklukan pula, satu satunya keturunan Raja Madura yang hidup ialah Raden Praseno, ia lalu dibawa ke Mataram.
 
Sesudah Raden Praseno dewasa ia lalu dikawinkan dengan adik Sultan Agung, kemudian pulau madura dipercayakan kepada Raden Praseno dengan gelar Pangeran Cakraningrat I. Ia lebih banyak ada di Mataram dari pada di Madura. Tetapi keadaan di Madura tetap berjalan dengan lancar, Di madura keratonnya ada di Sampang dan ia memmunyai isteri salah seorang keturunan Giri, yang terkenal dengan Ratu Ibu yang meninggal dnia dan dikuburkan di Air Mata Bangkalan. Sampai sekarang kuburan Ratu Ibu dianggap keramat oleh rakyat.

Pangeran Cakraningrat I dengan ratu Ibu mempunyai Anak2  :
1.   Raden Undakan, kemudian bergelar Cakraningrat II (disebut  Siding Kamal).
2.   Raden Ario Atmojodiningrat, yang setelah meninggal dunia dikuburkan di Imogiri
      bersama sama ayahnya ialah Pangeran Cakraningrat I, ketika pemberontakan
      Pangeran Alit
3.   Ratu Maospati.
 
Dengan isteri-isteri yang lain Pangeran Cakradiningrat I masih mempunyai putera-putera diantaranya pangeran Malujoayah dari Raden Trunojoyo bergelar juga Panembahan  Maduratno, setelah Sultan Agung diganti oleh puteranya Amangkurat I keadaan mataram berubah, dahulu Mataram ditakuti oleh kompeni setelah Amangkurat I berkuasa Mataram mengadakan hubungan yang sangat akrab dengan kompeni, didalam pemerintahan Amangkurat I kelihatannya tidak mempunyai kewibawaan, keretakan timbul dimana-mana dan makin lama kerajaan itu suram. Dalam tahun 1646 Mataram mengadakan perjanjian dengan Kompeni yang pada umumnya merugikan pada Mataram, mereka saling berjanji hendak tukar menukar tawanan perang dan tidak akan membantu musuh salah satu pihak, saban tahun kompeni akan mengirim utusan ke Mataram dan mengijinkan orang Jawa berdagang dimana saja kecuali dimaluku.

Dalam tahun 1652 perjanjian itu diperkuat dan ditetapkan bahwa perbatasan antara Mataram dan daera kompeni ialah kali Citarum, terhadap kompeni Amangkurat I menunjukan jiwa yang lemah terhadap rakyatnya bersikap kersa dan mendendam.
 
Pangeran Alit adiknya sendiri dicurigai dan di perintahkan untuk ditangkap dan dibunuh, Raden Malujo ayah dari Trunojoyo  juga mendapat perilaku yang demikian pula pada ahirnya Cakraningrat I, prnasehat utama dan amangkurat menjadi pemersihan yang dilakukan oleh sang Raja, suaratidak senang terhadap amangkurat I makin lama makinterdengar  semakin kuat sehingga menjadi cukup matang untuk timbulnya revolusi.
 
Adipati Anom Putera Amangkurat I ingin menumbangkan pemerintahan ayahnya tetapi ia tidak berani untu memulai, ia meminta bantuan Raden Kayoran tetapi ditolak karena Raden Kajoran sudah berusia lanjut meskipun pada ahirnya ia setuju untuk mengobarkan apai revolusi, setelah Pangeran Cakraningrat I meninggal dunia lalu digantikan dengan puteranya yang bergelar Cakraningrat II, kalau semasa  Cakraningrat I memimpin disegani   dan dicintai oleh rakyat, tetapi Cakraningrat II sebaliknya ia tidak mendapat simpati dari rakyat karena tindakannya tidak bijaksana.
 
 
 
 
Dikutip dari :
Buku Selayang Pandang Sejarah Madura
Oleh :
DR. Abdurrahman

Views: 490

  Komentar (2)
RSS comments
 1 Ditulis oleh awan, pd 28-04-2008 10:43
Siapakah Raden Kajoran yang anda sebut udah begitu tua itu? Hebat belio masih bisa menjadi arsitek trunojoyo itu? 
Maaf, bisa gak meng-elaborasi siapa Penembahan Kajoran itu? adakah nama lain belio? 
THX
 2 Tentang Raden Kajoran
Ditulis oleh De Jenderal, pd 29-04-2008 01:50
Menanggapi Pertanyaan dari Mas Awan tentang Raden Kajoran. 
 
Trimakasih atas partisipasinya di Bangkalan Memory ini, semoga kami dapat memberikan dan menyajikan artikel-artikel sejarah yang mungkin dapat bermanfaat bagi kita semua....  
 
Raden Kajoran atau lengkapnya Raden Kajoran Ambalik atau disebut juga Pangeran Rama atau Panembahan Kajoran atau Kyai Kajoran merupakan seorang ulama terkemuka dari Kajoran (suatu tempat di daerah Klaten, Surakarta), Keluarga Kajoran ini mempunyai pengaruh besar dan punya hubungan perkawinan dengan Keraton Mataram. Beliau juga masih keturunan dari Panembahan Senopati. 
 
Perlu diketahui bahwa Trunojoyo mempunyai 2 orang isteri, Isteri yang pertama adalah Puteri dari Raden Kajoran sedangkan Isteri kedua adalah Puteri Amangkurat I. 
 
Raden Kajoran menghimpun kekuatan untuk menghancurkan Sunan Amangkurat I. Raden Kajoran dalam menghimpun kekuatan tersebut dibantu oleh Pangeran Purbaya, Adipati Anom, Trunojoyo (Menantu dari Raden Kajoran), Kraeng Galesung (Menantu dari Trunojoyo) yang juga pemimpin pelarian Makasar di Demang-Basuki serta dibantu oleh sebagian prajurit mataram yang membelot untuk mengadakan serangan ke Kraton Mataram.

Beri Komentar
  • Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail
Homepage
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code
I wish being prevented by email of the comments which will follow

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Hak Cipta © 2007,2008 Bangkalan-Memory
email : admin@bangkalan-memory.net