HomeArtikel PEMERINTAHAN DI PAMEKASAN MULAI ABAD KE 15
PEMERINTAHAN DI PAMEKASAN MULAI ABAD KE 15
Oleh : Bangkalan Memory
Kamis, 06 Desember 2007
Diceritakan bahwa dalam pertengahan abad ke- 15
datanglah seorang yang bernama Ario Minak Sunojo dari Palembang dan bertempat
tinggal di Proppo, Pamekasan. Ia mempunyai keturunan yang bernama Ario Pojok
dan menjadi Kamituwo di Madekan, Sampang serta mempunyai putera : Nyai Pangeran
Jamburingin, dan Kayi Demang Palakaran di Arosbaya.
Diceritakan pula bahwa Raja Majapahit beserta Isterinya yang
disebut Puteri Campa mempunyai anak yang bernama Ario Lembu Peteng, Lembupeteng
sudah memeluk agama Islam dan menjadi Santri Sunan Ampel ia juga pernah menjadi
kamituwo di Sampang dan meninggalkan anak yang bernama Ario Menger dan Ari
Mengo denagn gelar Kijahi Wonorono masih tetap beragama Budha dan ia memimpin
pemerintahan berkraton di Lawangan-daja, Pamekasan.
Setelah Wonorono meninggal dunia ia meninggalkan seorang
puteri yang menggantikan ayahnyasebagai
Raja, Rakyat Pamekasan masih tetap patuh kepada Raja perempuan tersebut tidak
lama kemudian ia kawin dengan Kijahi Adipati Pramono putera dari Demang
Palakaran, rakyat Pamekasan semakin merasa puas karena dengan perkawinan
ratunya berarti tambah adanya perlindungan jika ada serangan dari luar dibawah
pemerintahan tersebut.
Rakyat makin lama makin makmur perdagangan berjalan lancar
dan hasil bumi berlimpah-limpah yang bararti taraf hidup semakin hari semakin
baik. Sewaktu Pamekasan dibawah pimpinan Wonorono, memang pernah menerima
Instruksi untuk membayar upeti kepada Grindra Wardana Kediri karena Majapahit
sudah jatuh. Jutru pada saat itulah Wonorono mengambil kesempatan diri dari
majapahit dan menjadi Negara yang merdeka penuh.
Berhubung dengan lancaranya perdagangan maka antaraksi
rakyat Pamekasan dengan masyarakat lain terutama masyarakat Islam diluar makin
lama makin banyak maka dari itu lambat laun rakyat Pamekasan memeluk Agama
Islam. Setelah pemerintahan dipegang oleh Pangeran Nugeroho (Bonorogo) makin
banyaklah keluarga Raja yang memeluk Agama Islam. Akhirnya diminta oleh
keluarganya agar Raja memeluk Islam, setelah ia hampir meninggal ia berkata
"jika nanti aku akan meninggal Pamekasan akan mengalami gempa bumi dan itulah
sebagai bukti bahwa aku memeluk Agama Islam".
Diceritakan memang demikianlah bahwa setelah Bonorogo
meninggal dunia di Pamekasan terasa ada gempa bumi karena itu ia lalu
dikuburkan secara Islam. Bonorogo diganti oleh puteranya yang bergelar
Panembahan Ronggo Sukawati dan tetap menempati keraton Lawangan-Daja, Pamekasan
Timur, diceritakan pada waktu itu kerajaan seperti terpecah belah dalam karajaan-kerajaan
kecil (leen-Vorsten) misalnya adik
Sukawati yang bernama Pangeran Nurogo berkeraton di Blimbingan dan di
Jamburingin berkuasa Pangeran Suhra dari keturunan Palakaran, Arosbaya.
Mula-mula Sukawati kawin didesa Parombasan ialah dengan
seorang selir yang nantinya mempunyai anak yang bergelar Pangeran Purboyo,
sesudah itu ia kawi dengan Ratu Inten saudara dari Ratu Ibu Isteri Pangeran
Cakraningrat I dengan mendapat Putera bergelar Pangeran Jimat
Dikutip dari :
Buku
Selayang Pandang Sejarah Madura
Oleh :
DR.
Abdurrahman
Views: 356
Komentar (1)
Beri Komentar
Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.