.

Translate

Daftar Pada Forum

Silahkan Login untuk masuk pada forum kami:





Lupa Kata Sandi?
Bukan Anggota, Silahkan? Daftar

Menu Utama

Kolom Prestasi



( Klik Gambar )

Dukung Kami

Kami menerima donasi bagi para donatur yang perduli, melalui paypal dengan jumlah minimum $2 
Nama-nama para donatur akan kami kami masukkan pada halaman khusus donasi. Terima kasih

Pesan Anda

Jumlah Pengunjung

Hari Ini258
Kemarin331
Minggu ini1226
Bulan ini6314
Semua71949

(C) Bangkalan-Memory

Support

Polls

Apakah anda mendukung website bangkalan memory ini:
 
Pemerintah Memblokir Situs Porno Pendapat anda ?
 

Jadwal Sholat

Bookmark Kami !

Berlangganan Artikel

Masukkan Alamat email anda:

Delivered by FeedBurner

Powered by FeedBurner

Komunitas

Top Indo

 


MusicPlaylist

 

Website Stats


Links to Site

Home arrow Artikel arrow PEMERINTAHAN DI PAMEKASAN MULAI ABAD KE 15
Selamat Datang di Bangkalan Memory, Website ini merupakan dedikasi kami dalam melestarikan peninggalan Budaya serta Sejarah Kota Bangkalan.
PEMERINTAHAN DI PAMEKASAN MULAI ABAD KE 15 Cetak halaman ini
Oleh : Bangkalan Memory   
Kamis, 06 Desember 2007

Diceritakan bahwa dalam pertengahan abad ke- 15 datanglah seorang yang bernama Ario Minak Sunojo dari Palembang dan bertempat tinggal di Proppo, Pamekasan. Ia mempunyai keturunan yang bernama Ario Pojok dan menjadi Kamituwo di Madekan, Sampang serta mempunyai putera : Nyai Pangeran Jamburingin, dan Kayi Demang Palakaran di Arosbaya.

Diceritakan pula bahwa Raja Majapahit beserta Isterinya yang disebut Puteri Campa mempunyai anak yang bernama Ario Lembu Peteng, Lembupeteng sudah memeluk agama Islam dan menjadi Santri Sunan Ampel ia juga pernah menjadi kamituwo di Sampang dan meninggalkan anak yang bernama Ario Menger dan Ari Mengo denagn gelar Kijahi Wonorono masih tetap beragama Budha dan ia memimpin pemerintahan berkraton di Lawangan-daja, Pamekasan.
 
Setelah Wonorono meninggal dunia ia meninggalkan seorang puteri yang menggantikan ayahnya  sebagai Raja, Rakyat Pamekasan masih tetap patuh kepada Raja perempuan tersebut tidak lama kemudian ia kawin dengan Kijahi Adipati Pramono putera dari Demang Palakaran, rakyat Pamekasan semakin merasa puas karena dengan perkawinan ratunya berarti tambah adanya perlindungan jika ada serangan dari luar dibawah pemerintahan tersebut.
 
Rakyat makin lama makin makmur perdagangan berjalan lancar dan hasil bumi berlimpah-limpah yang bararti taraf hidup semakin hari semakin baik. Sewaktu Pamekasan dibawah pimpinan Wonorono, memang pernah menerima Instruksi untuk membayar upeti kepada Grindra Wardana Kediri karena Majapahit sudah jatuh. Jutru pada saat itulah Wonorono mengambil kesempatan diri dari majapahit dan menjadi Negara yang merdeka penuh.
 
Berhubung dengan lancaranya perdagangan maka antaraksi rakyat Pamekasan dengan masyarakat lain terutama masyarakat Islam diluar makin lama makin banyak maka dari itu lambat laun rakyat Pamekasan memeluk Agama Islam. Setelah pemerintahan dipegang oleh Pangeran Nugeroho (Bonorogo) makin banyaklah keluarga Raja yang memeluk Agama Islam. Akhirnya diminta oleh keluarganya agar Raja memeluk Islam, setelah ia hampir meninggal ia berkata "jika nanti aku akan meninggal Pamekasan akan mengalami gempa bumi dan itulah sebagai bukti bahwa aku memeluk Agama Islam".
 
Diceritakan memang demikianlah bahwa setelah Bonorogo meninggal dunia di Pamekasan terasa ada gempa bumi karena itu ia lalu dikuburkan secara Islam. Bonorogo diganti oleh puteranya yang bergelar Panembahan Ronggo Sukawati dan tetap menempati keraton Lawangan-Daja, Pamekasan Timur, diceritakan pada waktu itu kerajaan seperti terpecah belah dalam karajaan-kerajaan kecil (leen-Vorsten) misalnya adik Sukawati yang bernama Pangeran Nurogo berkeraton di Blimbingan dan di Jamburingin berkuasa Pangeran Suhra dari keturunan Palakaran, Arosbaya.
 
Mula-mula Sukawati kawin didesa Parombasan ialah dengan seorang selir yang nantinya mempunyai anak yang bergelar Pangeran Purboyo, sesudah itu ia kawi dengan Ratu Inten saudara dari Ratu Ibu Isteri Pangeran Cakraningrat I dengan mendapat Putera bergelar Pangeran Jimat
 
 
 
 
 
Dikutip dari :
Buku Selayang Pandang Sejarah Madura
Oleh :
DR. Abdurrahman


Views: 356

  Komentar (1)
RSS comments
 1 nilam ramadhani online
Ditulis oleh Alamat e-mail ini telah dilindungi dari tindakan spam bots, Anda butuh Javascript dan diaktifkan untuk melihatnya website, pd 22-10-2008 07:48
website ini sangat bagus untuk pembelajaran tentang sejarah Madura,terutama untuk orang Madura sendiri yang kebanyakan masih belum tahu sejarah tanah kelahirannya (termasuk saya). Berharap ini akan menjadi media yang mudah memberi pemahaman akan hal itu, sehingga dapat mengikis citra kurang mengenakkan akan orang madura. Sukses selalu!!

Beri Komentar
  • Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail
Homepage
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code
I wish being prevented by email of the comments which will follow

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Hak Cipta © 2007,2008 Bangkalan-Memory
email : admin@bangkalan-memory.net