Bagi warga bangkalan. Saat ini ada menu khusus yang tidak
lagi didapatkan selain bulan ramadlan. Ya, namanya Bubur Sarikoyo. Meski mirip
dengan nama buah yaitu srikaya, tetapi bahan utama pembuatan bubur sarikoyo tak
sedikitpun berasal dari buah tersebut.
Kalau di kota buaya Surabaya makanan lima ribuan adalah makanan yang paling murah. Beda halnya di Sumenep, Madura. Untuk mendapatkannya, juga tidak sulit jika pernah datang ke kota ujung timur pulau garam Madura, tepatnya di Jalan Zainal Arifin kota Sumenep atau sebelah timur Hotel Wijaya II. Banyak orang menyebutnya, Warung Pak Abi.
Kalsot merupakan makanan khas Madura. Sehingga masyarakat Sumenep sepertinya sudah kental dengan warung Pak Abi itu. Pembelinya dari semua kalangan, yakni anak-anak, remaja, masyarakat umum, pejabat. Bahkan, para tamu dari luar Madura.
Aktifitas di warung yang bersebelahan dengan sebuah dialer mobil bekas itu sangat ramai. Apalagi hari Minggu. Mereka ingin merasakan menu makanan ciri khas Madura. Sebab, di warung itu, tidak hanya menyediakan kalsot, tapi berbagai macam jenis makanan khas Madura lainnya tersedia dengan harga murah dan rasanya mantap.
Kalsot itu sendiri, terdiri dari bubur kacang hijau dengan aroma daging yang kental (soalnya ada kikilnya) serta di beri semacam apa ya namanya, itu... seperti gorengan ketela (kurkit kali, he he) di dalamnya dan dicampur dengan sedikit bawang merah dan seledri.
Mungkin untuk yang baru pertama kali mencicipi atau melihat makanan
khas Madura itu, agak jijik. Tapi percaya deh, rasanya mantep banget!.
Ketika
Raja Mandaraga wafat, jenazahnya dimakamkan di tempat itu juga (sekarang
Mandaraga menjadi sebuah kampung di Desa Keles Kecamatan Ambunten Kabupaten
Sumenep). Di sebelah timur laut sumber Mandaraga adalah makam Pangeran
Mandaraga, yang oleh orang-orang desa itu disebut "Asta Patapan",
(makam pertapaan), karena pada zaman dahulu banyak orang yang datang bertapa di
tempat yang dikeramatkan itu.
Tak
banyak diceritakan mengenai kehidupan Raja Mandaraga termasuk kedua puteranya,
yaitu Pangeran Bukabu dan Pangeran Baragung. Yang diceritakan hanya Pangeran
Bukabu dan Pangeran Baragung meninggal dunia. Jenazah Pangeran Bukabu
dimakamkan di Bukabu (sekarang Bukabu menjadi sebuah desa di Kecamatan Ambunten
Kabupaten Sumenep). Sedangkan Pangeran Baragung dimakamkan di Baragung
(sekarang Baragung menjadi sebuah desa di Kecamatan Guluk-Guluk Kabupaten
Sumenep). Pangeran Bukabu banyak menurunkan Para Kyai dan alim ulama di Madura
umumnya dan di Sumenep pada khususnya.
Pangeran
Baragung meningggalkan seorang puteri yang bernama Endhang Kilengan. Ia
bersuamikan Bramakanda. Dan, dalam perkawinannya itu, mereka dikarunia seorang
putera yang bernama Wagungrukyat. Setelah Wagungrukyat menginjak dewasa, ia
menjadi raja di Sumenep, dengan julukan Pangeran Saccadiningrat. Keratonnya
terletak di Desa Banasare (sekarang Banasare termasuk Kecamatan Rubaru).
Pangeran
Saccadiningrat kawin dengan saudara sepupu ibunya, yaitu Dewi Sarini. Tidak
lama mereka dikaruniai seorang puteri bernama Saini, dengan julukan Raden Ayu
Potre Koneng. Kulitnya mengkilat serta memiliki wajah yang sangat cantik.
Madura tidak hanya terkenal karena hasil garamnya, namun lebih daripada itu Pulau Madura dikenal dengan tradisi adu pacu sapinya yang disebut "kerapan". Kebiasaan memacu binatang peliharaan di arena memang sudah menjadi kegemaran penduduk Madura sejak dahulu kala. Di Madura tidak hanya hewan peliharaan sapi yang diadu cepat, tetapi juga kerbau seperti yang terdapat di Pulau Kangean. Adu cepat kerbau itu disebut "mamajir". Sapi atau kerbau yang adu cepat itu, dikendarai oleh seorang joki yang disebut tukang tongko. Tukang tongko tersebut berdiri di atas "kaleles" yang ditarik oleh sapi atau kerbau pacuan.
Pada kira-kira bulan Agustus 1946, menjelang Maghrib, Abusiri (kini Kolonel Polisi Purnawirawan) mengantarkan teman seangkatan, M. Ng. Sulaiman, ke pelabuhan Tanglok, Sampang. Ia diutus oleh pimpinan Kepolisian Karesidenan ke Kantor Polisi Pusat di Purwokerto, oleh sebab itu ia dengan 83 penumpang lainnya naik kapal Kangean (sebesar kurang lebih kapal PJKA), menuju ke Probolinggo. Kapal ini pernah dipakai rombongan Mr. sis. Cakraningrat (Bupati Bangkalan) waktu mau memperistrikan Ratu Pembayun dari Kraton Solo.
Salah satu pertunjukan kebudayaan yang khas dan unik di Madura adalah adanya lotrengan atau sape sono'. Meski telah dibanjiri berbagai pertunjukan modern yang relatif lebih praktis dan menjanjikan kepuasan yang berlebih, lewat sape sono', masyarakat Madura membuktikan bahwa warisan kebudayaan nenek moyang lebih mempunyai nilai filosofi yang tinggi.
Pada Zaman Majapahit di Sampang ditempatkan seorang Kamituwo yang pangkatnya hanya sebagai patih, jadi boleh dikatakan kepatihan yang berdiri sendiri. Sewaktu Majapahit mulai mundur di Sampang berkuasa Ario Lembu Peteng, Putera Raja Majapahit dengan Puteri Campa.
Konon dalam ungkapan cerita para sesepuh yang sudah merakyat bahwa Sultan R. Abd. Kadirun selain terkenal sebagai Sultan yang digdaya, juga dikenal sebagai Sultan yang soleh dan alim dalam ilmu agama.
Kabupaten Pamekasan lahir dari proses sejarah yang cukup panjang. Istilah Pamekasan sendiri baru dikenal pada sepertiga abad ke-16, ketika Ronggosukowati mulai memindahkan pusat pemerintahan dari Kraton Labangan Daja ke Kraton Mandilaras. Memang belum cukup bukti tertulis yang menyebutkan proses perpindahan pusat pemerintahan sehingga terjadi perubahan nama wilayah ini. Begitu juga munculnya sejarah pemerintahan di Pamekasan sangat jarang ditemukan bukti-bukti tertulis apalagi prasasti yang menjelaskan tentang kapan dan bagaimana keberadaannya.
Perkawinan merupakan Upacara paling sakral dalam perjalanan kehidupan manusia. Suatu kenyataan bahwa Indonesia terdiri atas beberapa Suku Bangsa, Agama, Adat Istiadat yang berbeda, dengan latar belakang sosial budaya yang beraneka ragam. Masing-masing daerah mempunyai tata cara tersendiri .tak terkecuali dalam adat prosesi perkawinannya, baik Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Madura pada umumnya. Pada Upacara Perkawinan biasanya kedua mempelai dirias berbusana secara khusus.
Wilayah Sumenep waktu jaman kerajaan Singasari, (Raja Kertanegara, 1268-1292) dipimpin oleh Ario Wiraraja atau Ario Banyak Wide. Pada masa awal pemerintahan kerajaan Majapahit Aria Wiraraja banyak membantu Raden Wijaya, akhirnya la di beri kekuasaan di Lumajang. Sumenep dipimpin oleh Aria Bangah, yang keratonnya berada di desa Benasareh, Rubaru (Sumenep). Selanjutnya pimpinan diganti oleh puteranya yang bernama Ario Danurwendo yang bergelar Lembusuranggono dimana keratonnya di pindah di desa Tanjung, daerah Bluto. Dengan kisah singkat ini dapat dikatakan bahwa wilayah Sumenep telah memasuki peradaban yang tinggi pada abad ke-13.
Kata "gumbak" dalam bahasa Madura berati mengaduk-aduk air kolam (sungai) sehingga menimbulkan ombak atau gelombang. Selanjutnya istilah ”gumbak” yang terkait dengan upacara sakral di desa Banjar (Kecamatan Kedungdung) berhubungan dengan tradisi ”baceman” yang artinya membersihkan dan mensucikan pusaka (senjata tradisional). Senjata tradisional yang dimaksudkan berjumlah 24 senjata / pusaka
Tompang
Tresna merupakan tradisi yang unik di Wilayah Bangkalan, yakni upacara untuk
mengukur kesucian penganten wanita pada malam pertama. Upacara ini secara
khusus terkait pada pasangan penganten baru yang masih perjaka dan perawan. Penganten
baru yang duduk di pelaminan, pada malam harinya (setelah para undangan
meninggalkan upacara pesta) pasangan penganten menikmati malam pertama. Upacara
dilaksanakan di rumah penganten putri. Sewaktu pasangan penganten memasuki
kamar penganten, diruang tamu dibacakan tembang macapat, disebut "Mamaca" atau
"Macapatan".
Konon
pada abad ke-18 di Madura Marat tepatnya di Kecamatan Socah saat kemanten pria
akan masuk demarkasi kemanten wanita. Biasanya dialog itu dibawakan oleh
beberapa orang tua-tua yang didampingi oleh seorang pendekar. Dipihak kemanten
wanita telah tersedia beberapa orang tua-tua pula yang didampingi oleh seorang
pendekar. Awalnya dialog dibawakan oleh para orang tua dari pihak temanten
pria, biasanya dengan cara berpantun. Kemudian ada jawaban dari para orang tua
pihak temanten wanita. Apabila dialog tersebut ada ketidakcocokan, biasanya
terjadi perkelahian hebat. Sebaliknya apabila dialig itu bisa cocok, maka
temanten pria bisa masuk ke keluarga temanten wanita.
Seni
Tari tradisi Bahhong ini berasal dari sebuah Desa Katol Barat yang terbilang
gersang dan tandus di daerah Kecamatan Geger, Kabupaten Bangkalan. Walaupun
desa ini gersang dan tandus tetapi di desa ini kaya akan budaya yang perlu
dikembangkan, salah satunya adalah kesenian Bahhong.
Upacara
"Temu Pengantin" yang berasal dari daerah pesisir tepatnya Banyusangka
Kecamatan Tanjung Bumi, telah ada sejak puluhan tahun lalu dan tetap
dilestarikan oleh warga setempat sebagai budaya turun-temurun yang tidak akan
pernah sirna.
Sumenep merupakan Kabupaten di Jawa Timur yang berada
di ujung paling Timur Pulau Madura, bisa dibilang sebagai salah satu kawasan
yang terpenting dalam sejarah Madura. Kita dapat menjumpai situs-situs
kebudayaan yang sampai hari ini masih menjadi obyek pariwisata. Diantaranya
yang kita ketahui adalah kereta kencana peninggalan raja Sumenep, alun-alun
(taman bunga) yang konsep bangunannya memiliki kekhasan ala bangunan kerajaan,
Masjid Jamik atau Masjid Agung yang terletak di jantung Kota Sumenep, Masjid
ini termasuk salah satu masjid tertua di Indonesia yang dibangun pada tahun
1779 M sampai 1787 M oleh Panembahan Sumolo, Kraton Sumenep