Soto
Madura adalah jenis soto yang berasal dari daerah Madura, Jawa Timur
berbahan dasar daging sapi, telur rebus, kentang goreng dan tauge, dengan bumbu
ketumbar, bawang merah, bawang putih, jahe, kunir, laos, Kemiri, jeruk purut
dan garam secukupnya
Ramuan Madura makin digemari di mancanegara. Di negeri Belanda, Bangkok, Taiwan, dan Turki, misalnya, jamu dari Pulau Garam itu sangat laris. Mengapa mereka tertarik pada ramuan Madura? Berikut penuturan suami istri Wahyudi-Rosiana yang berpengalaman memasarkan jamu warisan nenek moyangnya di beberapa negara itu.
Jamu Madura punya sejumlah nama dengan khasiat yang berbeda-beda. Dari sekian nama itu, menurut Ny Ana - panggilan Rosiana -, jamu Tongkat Asli Madura sangat laris di Bangkok. Jamu buatan Joko Tole ini dipromosikan bisa membersihkan alat khusus kewanitaan dengan membunuh beragam bakteri yang biasa ngendon di alat rahasia wanita ini.
Bahkan, jamu ini juga dipercaya bisa menghilangkan keputihan dalam sekejap - hanya lima menit -, mengeringkan, dan mengembalikan keperawanan wanita. Bukan mengembalikan keperawanan dalam arti biologis. "Tapi, pada rasa. Pengusaha Bangkok yang menjadi mitra kami itu memesan 100 ribu buah per bulannya. Tapi, kami baru bisa memenuhi separonya," kata Wahyudi yang kemarin didampingi istrinya, Ny Ana.
Buah tangan apa yang pantas dibawa dari Madura? Garam? Jelas tidak. Tak ada bedanya garam yang ada di Madura dengan yang Anda beli di warung mana pun. Dewasa ini, mencari cendera mata khas Madura tidak sesulit dulu lagi.
Berbagai macam cendera mata menarik seperti aneka warna pecut, udeng, celurit mini untuk kalung, topeng tokoh pewayangan dan kipas, telah banyak dijual pada kios khusus penjual cendera mata di pusat- pusat keramaian pulau garam itu. Bahkan begitu masuk di Pelabuhan Kamal (Bangkalan)--setelah turun dari kapal feri--sudah banyak pedagang asongan yang menawarkan cendera mata khas Madura itu.
Wisatawan mancanegara maupun wisnus yang berkunjung ke Madura, memang banyak sekali yang tertarik untuk mendapatkan aneka warna pecut dan udeng yang biasa dipakai seorang joki Karapan Sapi, saat berlaga di arena.
Kehadiran kaum elite pribumi keturunan Madura di Bengkulu pada abad ke 18, sebenarnya tidak lepas dari latar belakang situasi politik di wilayah Madura itu sendiri.
Diketahui, bahwa Panembahan Abdul Kharim Diningrat atau lebih dikenal dengan nama Panembahan Cakraningrat IV, penguasa dari Bangkalan di Madura Barat, mempunyai empat orang anak. Dari keempat anaknya, yang diketahui namanya hanya tiga orang, yaitu Raden Surodiningrat (anak tertua), Raden Ranadiningrat (anak ketiga), dan Raden Tumenggung Wirodiningrat (anak keempat).
Menurut catatan Broek, Ranadiningrat dan Wirodiningrat lahir dari istri yang berbeda, yaitu Nyai Tengah dan Nyai Magih, yang keduanya berasal dari Banyu Sanka di Bengkulu.Catatan Broek ini sangat memungkinkan, sebab Cakraningrat IV telah mempunyai hubungan yang erat dengan Kompeni Inggris di Bengkulu. Jadi besar kemungkinan, apabila Cakraningrat IV memperoleh istri dari Bengkulu.
Selanjutnya disebutkan, bahwa hubungan antara Cakraningrat IV dengan anak tertuanya yang telah menjadi Bupati Sedayu, mulai retak karena sikap anaknya yang cenderung pro Kompeni Belanda. Akibat retaknya hubungan keluarga, maka dibuanglah istri Surodiningrat dan keempat anaknya, serta anak Ranadiningrat.Pada waktu pecah perang antara Cakraningrat IV dengan Kompeni Belanda, dikirimlah Raden Temenggung Wirodiningrat (anak yang keempat) bersama dengan Raden Sang Nata (anak Raden Ranadiningrat) ke Bengkulu untuk minta bantuan Kompeni Inggris. Akan tetapi gagal, bahkan mereka akhirya menetap di Bengkulu. Sementara Cakraningrat IV sendiri ditawan oleh Kompeni Belanda dan selanjutnya dibuang ke Cape (Tanjung Harapan).
Kehadiran kelompok elite keturunan Madura di Bengkulu ini, ternyata mendapat respon serta sambutan terhormat dari kalangan elite pribumi setempat. Perkembangan selanjutnya, kelompok elite keturunan Madura ini berhasil menjalin hubungan kekerabatan melalui perkawinan dengan keluarga elite pribumi setempat. Bahkan Pangeran Sungai Lemau telah memberinya tempat tinggal, yaitu di kampung tengah Padang. Berikut isi petikan dalam Naskah Melayu tentang posisi elite keturunan Madura.
Penggemar berat soto, harusnya tak melewatkan hidangan satu
ini. Jika anda sudah sering menyantap menu soto daging atau soto ayam, soto
satu ini patut dicoba.
Bagi warga bangkalan. Saat ini ada menu khusus yang tidak
lagi didapatkan selain bulan ramadlan. Ya, namanya Bubur Sarikoyo. Meski mirip
dengan nama buah yaitu srikaya, tetapi bahan utama pembuatan bubur sarikoyo tak
sedikitpun berasal dari buah tersebut.
Kalau di kota buaya Surabaya makanan lima ribuan adalah makanan yang paling murah. Beda halnya di Sumenep, Madura. Untuk mendapatkannya, juga tidak sulit jika pernah datang ke kota ujung timur pulau garam Madura, tepatnya di Jalan Zainal Arifin kota Sumenep atau sebelah timur Hotel Wijaya II. Banyak orang menyebutnya, Warung Pak Abi.
Kalsot merupakan makanan khas Madura. Sehingga masyarakat Sumenep sepertinya sudah kental dengan warung Pak Abi itu. Pembelinya dari semua kalangan, yakni anak-anak, remaja, masyarakat umum, pejabat. Bahkan, para tamu dari luar Madura.
Aktifitas di warung yang bersebelahan dengan sebuah dialer mobil bekas itu sangat ramai. Apalagi hari Minggu. Mereka ingin merasakan menu makanan ciri khas Madura. Sebab, di warung itu, tidak hanya menyediakan kalsot, tapi berbagai macam jenis makanan khas Madura lainnya tersedia dengan harga murah dan rasanya mantap.
Kalsot itu sendiri, terdiri dari bubur kacang hijau dengan aroma daging yang kental (soalnya ada kikilnya) serta di beri semacam apa ya namanya, itu... seperti gorengan ketela (kurkit kali, he he) di dalamnya dan dicampur dengan sedikit bawang merah dan seledri.
Mungkin untuk yang baru pertama kali mencicipi atau melihat makanan
khas Madura itu, agak jijik. Tapi percaya deh, rasanya mantep banget!.
Ketika
Raja Mandaraga wafat, jenazahnya dimakamkan di tempat itu juga (sekarang
Mandaraga menjadi sebuah kampung di Desa Keles Kecamatan Ambunten Kabupaten
Sumenep). Di sebelah timur laut sumber Mandaraga adalah makam Pangeran
Mandaraga, yang oleh orang-orang desa itu disebut "Asta Patapan",
(makam pertapaan), karena pada zaman dahulu banyak orang yang datang bertapa di
tempat yang dikeramatkan itu.
Tak
banyak diceritakan mengenai kehidupan Raja Mandaraga termasuk kedua puteranya,
yaitu Pangeran Bukabu dan Pangeran Baragung. Yang diceritakan hanya Pangeran
Bukabu dan Pangeran Baragung meninggal dunia. Jenazah Pangeran Bukabu
dimakamkan di Bukabu (sekarang Bukabu menjadi sebuah desa di Kecamatan Ambunten
Kabupaten Sumenep). Sedangkan Pangeran Baragung dimakamkan di Baragung
(sekarang Baragung menjadi sebuah desa di Kecamatan Guluk-Guluk Kabupaten
Sumenep). Pangeran Bukabu banyak menurunkan Para Kyai dan alim ulama di Madura
umumnya dan di Sumenep pada khususnya.
Pangeran
Baragung meningggalkan seorang puteri yang bernama Endhang Kilengan. Ia
bersuamikan Bramakanda. Dan, dalam perkawinannya itu, mereka dikarunia seorang
putera yang bernama Wagungrukyat. Setelah Wagungrukyat menginjak dewasa, ia
menjadi raja di Sumenep, dengan julukan Pangeran Saccadiningrat. Keratonnya
terletak di Desa Banasare (sekarang Banasare termasuk Kecamatan Rubaru).
Pangeran
Saccadiningrat kawin dengan saudara sepupu ibunya, yaitu Dewi Sarini. Tidak
lama mereka dikaruniai seorang puteri bernama Saini, dengan julukan Raden Ayu
Potre Koneng. Kulitnya mengkilat serta memiliki wajah yang sangat cantik.
Madura tidak hanya terkenal karena hasil garamnya, namun lebih daripada itu Pulau Madura dikenal dengan tradisi adu pacu sapinya yang disebut "kerapan". Kebiasaan memacu binatang peliharaan di arena memang sudah menjadi kegemaran penduduk Madura sejak dahulu kala. Di Madura tidak hanya hewan peliharaan sapi yang diadu cepat, tetapi juga kerbau seperti yang terdapat di Pulau Kangean. Adu cepat kerbau itu disebut "mamajir". Sapi atau kerbau yang adu cepat itu, dikendarai oleh seorang joki yang disebut tukang tongko. Tukang tongko tersebut berdiri di atas "kaleles" yang ditarik oleh sapi atau kerbau pacuan.
Pada kira-kira bulan Agustus 1946, menjelang Maghrib, Abusiri (kini Kolonel Polisi Purnawirawan) mengantarkan teman seangkatan, M. Ng. Sulaiman, ke pelabuhan Tanglok, Sampang. Ia diutus oleh pimpinan Kepolisian Karesidenan ke Kantor Polisi Pusat di Purwokerto, oleh sebab itu ia dengan 83 penumpang lainnya naik kapal Kangean (sebesar kurang lebih kapal PJKA), menuju ke Probolinggo. Kapal ini pernah dipakai rombongan Mr. sis. Cakraningrat (Bupati Bangkalan) waktu mau memperistrikan Ratu Pembayun dari Kraton Solo.
Salah satu pertunjukan kebudayaan yang khas dan unik di Madura adalah adanya lotrengan atau sape sono'. Meski telah dibanjiri berbagai pertunjukan modern yang relatif lebih praktis dan menjanjikan kepuasan yang berlebih, lewat sape sono', masyarakat Madura membuktikan bahwa warisan kebudayaan nenek moyang lebih mempunyai nilai filosofi yang tinggi.
Pada Zaman Majapahit di Sampang ditempatkan seorang Kamituwo yang pangkatnya hanya sebagai patih, jadi boleh dikatakan kepatihan yang berdiri sendiri. Sewaktu Majapahit mulai mundur di Sampang berkuasa Ario Lembu Peteng, Putera Raja Majapahit dengan Puteri Campa.
Konon dalam ungkapan cerita para sesepuh yang sudah merakyat bahwa Sultan R. Abd. Kadirun selain terkenal sebagai Sultan yang digdaya, juga dikenal sebagai Sultan yang soleh dan alim dalam ilmu agama.
Kabupaten Pamekasan lahir dari proses sejarah yang cukup panjang. Istilah Pamekasan sendiri baru dikenal pada sepertiga abad ke-16, ketika Ronggosukowati mulai memindahkan pusat pemerintahan dari Kraton Labangan Daja ke Kraton Mandilaras. Memang belum cukup bukti tertulis yang menyebutkan proses perpindahan pusat pemerintahan sehingga terjadi perubahan nama wilayah ini. Begitu juga munculnya sejarah pemerintahan di Pamekasan sangat jarang ditemukan bukti-bukti tertulis apalagi prasasti yang menjelaskan tentang kapan dan bagaimana keberadaannya.
Perkawinan merupakan Upacara paling sakral dalam perjalanan kehidupan manusia. Suatu kenyataan bahwa Indonesia terdiri atas beberapa Suku Bangsa, Agama, Adat Istiadat yang berbeda, dengan latar belakang sosial budaya yang beraneka ragam. Masing-masing daerah mempunyai tata cara tersendiri .tak terkecuali dalam adat prosesi perkawinannya, baik Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Madura pada umumnya. Pada Upacara Perkawinan biasanya kedua mempelai dirias berbusana secara khusus.
Wilayah Sumenep waktu jaman kerajaan Singasari, (Raja Kertanegara, 1268-1292) dipimpin oleh Ario Wiraraja atau Ario Banyak Wide. Pada masa awal pemerintahan kerajaan Majapahit Aria Wiraraja banyak membantu Raden Wijaya, akhirnya la di beri kekuasaan di Lumajang. Sumenep dipimpin oleh Aria Bangah, yang keratonnya berada di desa Benasareh, Rubaru (Sumenep). Selanjutnya pimpinan diganti oleh puteranya yang bernama Ario Danurwendo yang bergelar Lembusuranggono dimana keratonnya di pindah di desa Tanjung, daerah Bluto. Dengan kisah singkat ini dapat dikatakan bahwa wilayah Sumenep telah memasuki peradaban yang tinggi pada abad ke-13.